Melalui edukasi gizi calon pengantin, pemberian tablet tambah darah bagi remaja perempuan, serta pemantauan ibu dan anak, Desa Bubung di Kabupaten Banggai berhasil menurunkan jumlah balita stunting dari 40 menjadi enam anak.
BANGGAI – Pencegahan stunting sejak usia remaja menjadi salah satu strategi yang mengantarkan Desa Bubung, Kecamatan Luwuk Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), menurunkan jumlah balita stunting dari 40 anak menjadi enam anak. Keberhasilan tersebut ditopang edukasi gizi bagi calon pengantin, pemberian tablet tambah darah kepada remaja perempuan, serta pemantauan kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan.
Kepala Desa (Kades) Bubung Idham Milang menjelaskan, penurunan kasus tersebut merupakan hasil kerja bersama pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dan kader kesehatan yang secara konsisten menjalankan program pencegahan. Upaya tersebut tidak hanya menyasar bayi dan balita, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, perempuan lanjut usia, calon pengantin, hingga remaja perempuan.
Menurut Idham, pendidikan kesehatan sebelum pernikahan menjadi langkah penting untuk memutus risiko stunting sejak dini. Sosialisasi diberikan agar calon pasangan memahami pentingnya kesiapan kesehatan dan pemenuhan gizi sebelum memasuki masa kehamilan.
“Kami anggarkan untuk ada sosialisasi. Ketika (calon pengantin) mau married mereka paham yang namanya stunting,” kata Idham saat menerima kunjungan Sekretariat Nasional (Seknas) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Luwuk, Jumat (6/11/2026), sebagaimana diberitakan Media Indonesia, Jumat (06/11/2026).
Kunjungan tersebut dihadiri Ketua Seknas SDGs yang juga Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pungkas Bahjuri Ali, Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah Suprapto Budinugroho, serta Manajer Pilar Pembangunan Sosial Seknas SDGs Sanjoyo. Desa Bubung menjadi salah satu contoh praktik baik (best practices) dalam upaya penurunan stunting.
Idham menjelaskan, sebagian besar penduduk Bubung bekerja sebagai petani dengan mengandalkan hasil perkebunan kelapa dan jagung untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain kondisi ekonomi, kecenderungan usia perkawinan yang relatif lebih muda dibandingkan masyarakat perkotaan menjadi pertimbangan pemerintah desa untuk memperluas edukasi kesehatan reproduksi dan gizi.
Program tersebut dijalankan melalui kegiatan rutin di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Kader kesehatan menjadi penggerak utama dengan melakukan pendataan, penimbangan, pengukuran pertumbuhan anak, serta menghubungkan keluarga yang membutuhkan penanganan dengan petugas kesehatan.
Pengawasan juga dilakukan melalui kunjungan langsung ke rumah warga, khususnya keluarga dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Apabila ditemukan anak yang tidak mengikuti pelayanan kesehatan rutin, kader mendatangi rumah keluarga untuk memastikan pemantauan tetap berjalan.
“Ketika posyandu (bayi dan balita) tidak datang, kader jemput bola ke rumah,” ucap Idham.
Strategi pencegahan juga diperluas dengan melibatkan organisasi kepemudaan. Karang Taruna berpartisipasi mendata remaja perempuan agar memperoleh edukasi kesehatan dan tablet tambah darah sebagai upaya mencegah anemia sebelum memasuki usia kehamilan.
“Karang taruna juga proaktif mendata remaja perempuan untuk diberikan tablet tambah darah,” kata dia.
Perwakilan kader Posyandu Rahmi, 36, mengatakan persiapan kesehatan calon ibu dilakukan sebelum kehamilan. Kader memastikan perempuan yang akan menikah mendapatkan perhatian terhadap kondisi kesehatannya, terutama untuk mengantisipasi anemia dan kekurangan energi kronis (KEK).
“Kita berikan tablet tambah darah. Saat menstruasi diminum setiap hari. Kalau tidak menstruasi diminum seminggu sekali,” ucap Rahmi.
Menurut Rahmi, pelayanan Posyandu bagi remaja dilaksanakan empat kali dalam setahun. Di luar jadwal tersebut, kader tetap melakukan kunjungan rumah untuk memantau kepatuhan konsumsi tablet tambah darah.
Pemantauan berlanjut ketika perempuan memasuki masa kehamilan. Kader memastikan ibu hamil menjalani pemeriksaan setidaknya enam kali selama kehamilan, sekaligus memantau kecukupan gizi, asam folat, dan kondisi anemia.
Setelah bayi lahir, perhatian diarahkan pada pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, makanan pendamping air susu ibu (MPASI), dan vitamin sesuai kebutuhan anak. Rangkaian intervensi tersebut dirancang untuk menjaga kesehatan ibu dan anak selama periode penting pertumbuhan.
Meski jumlah balita stunting berhasil ditekan, enam anak yang masih mengalami persoalan pertumbuhan menjadi perhatian tersendiri. Rahmi menilai pola pengasuhan dan kurangnya perhatian terhadap asupan makanan anak menjadi salah satu faktor yang masih ditemukan di masyarakat.
“Kami sering sosialisasi tentang gizi jadi untuk informasi sudah cukup. Di sini rata-rata orangtuanya kerja, asupan makanan anaknya tidak diperhatikan. Ketika kami kader melakukan pengukuran, tinggi badannya cukup tapi berat badannya tidak atau sebaliknya. Dari data itu kami rujuk ke petugas gizi. Tapi banyak juga yang orangtuanya tidak terima kalau anaknya disebut kurang berat badan atau kurang tinggi badan,” kata dia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan perlu diikuti perubahan perilaku keluarga. Keterlibatan orang tua dalam memperhatikan kebutuhan gizi dan pertumbuhan anak menjadi bagian penting agar upaya pencegahan tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan rutin.
Kepala Seknas SDGs Pungkas Bahjuri Ali mengapresiasi langkah pemerintah Desa Bubung yang dinilai mampu mengembangkan program pencegahan stunting melalui dukungan anggaran dan pemberdayaan kader. Menurutnya, pemerintah desa perlu memastikan kader memperoleh dukungan yang memadai agar pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung secara konsisten.
“Tugas desa mendukung kader, insentif misalnya dan menyediakan pemberian makanan tambahan dari dana desa. Inisiatif sangat bagus karena kepala desanya dan kepala dinasnya sangat aktif. Mereka berpengalaman, bahkan berinisiatif menambah apa yang sudah ada,” kata Pungkas.
Ia juga menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi memperkuat percepatan penurunan stunting apabila pelaksanaannya tepat sasaran. Kelompok ibu hamil hingga anak berusia lima tahun dinilai perlu mendapatkan perhatian karena berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Mulai dari ibu hamil hingga anak usia lima tahun,” kata Pungkas.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Banggai Pupung Dilianto menyampaikan bahwa percepatan penurunan stunting dan penanggulangan kemiskinan menjadi dua prioritas dalam penyusunan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Pemerintah Kabupaten Banggai menjalankan aksi konvergensi dengan melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD). Meskipun pemerintah sedang menerapkan efisiensi anggaran, kedua agenda tersebut dipastikan tetap menjadi perhatian dalam perencanaan program pembangunan.
“Semua desa wajib memprioritaskan penanganan stunting dan kemiskinan. Semua perangkat daerah konvergensinya. Menjadi urusan wajib yang harus semua desa usulkan dan organisasi perangkat daerah wajib menindaklanjuti program yang diusulkan desa,” terang Pupung.
Keberhasilan Desa Bubung menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan intervensi berkelanjutan sejak sebelum pernikahan hingga anak memasuki usia balita. Dukungan anggaran desa, keterlibatan kader, perubahan pola pengasuhan, dan koordinasi lintas sektor diharapkan dapat mempertahankan penurunan kasus sekaligus mempercepat perbaikan status gizi generasi berikutnya. []
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara