Inovasi IPAL Sidoarjo Dilirik Puluhan Kepala Desa dari Kalimantan Selatan

Sebanyak 50 personel gabungan bersama masyarakat membersihkan Sungai Timur Kali sepanjang satu kilometer di Desa Wates, Kudus, untuk mengantisipasi banjir akibat penumpukan sampah dan pertumbuhan eceng gondok menjelang musim hujan.

SIDOARJO – Pengolahan air limbah rumah tangga menjadi air yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman menjadi salah satu inovasi lingkungan yang menarik perhatian puluhan kepala desa dari Kalimantan Selatan. Teknologi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang dikembangkan Kampung Edukasi Sampah di Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, dinilai berpotensi diterapkan untuk mendukung pengelolaan lingkungan dan penghijauan di wilayah pedesaan.

Inovasi tersebut dipelajari puluhan kepala desa yang tergabung dalam Ikatan Kerukunan Kepala Desa (IKKD) Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel), saat melakukan kunjungan pembelajaran di Kampung Edukasi Sampah, Jumat.

Pendamping rombongan kepala desa di Sidoarjo, Lastri, mengatakan pemanfaatan air hasil pengolahan limbah rumah tangga menjadi salah satu praktik yang perlu dipelajari lebih lanjut karena berpeluang diterapkan di desa-desa Kecamatan Bati-Bati.

“Inovasi IPAL yang mampu mengolah air limbah rumah tangga untuk dimanfaatkan kembali untuk penyiraman air menjadi hal menarik yang perlu dipelajari lebih lanjut dan berpotensi diterapkan di desa-desa Kecamatan Bati-Bati,” kata Lastri, sebagaimana diberitakan ANTARA, Jumat, (06/11/2026).

Selain pengolahan air limbah, kunjungan tersebut juga memperkenalkan pendekatan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya, dan penghijauan. Praktik tersebut dinilai dapat menjadi referensi bagi desa dalam mengembangkan program pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Pegiat lingkungan Kampung Edukasi Sampah Kelurahan Sekardangan, Edi Priyanto, mengatakan pengelolaan lingkungan harus menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, penerapan prinsip tersebut perlu dimulai dari tingkat desa karena pemerintah desa memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Pemahaman mengenai SDGs tidak boleh berhenti di tingkat pemerintah pusat maupun kabupaten/kota, tetapi harus diterjemahkan hingga ke tingkat pemerintahan desa. Sebab, desa merupakan ujung tombak pembangunan sekaligus ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Kampung Edukasi Sampah Sekardangan menerapkan pendekatan pengelolaan lingkungan melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), yakni mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah. Pendekatan ini tidak hanya mendorong kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mengembangkan pemanfaatan sampah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan ekonomi.

Untuk mengolah sampah organik, masyarakat memanfaatkan komposter aerob, metode Takakura, dan tong aerob. Pengolahan juga dilakukan melalui budi daya larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), serta penggunaan mesin pencacah sampah organik.

Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui Bank Sampah Telulikur. Fasilitas tersebut menjadi sarana pemilahan sampah sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sampah yang memiliki nilai jual.

Pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut juga mencakup pemanfaatan teknologi sederhana dan energi alternatif. Selain IPAL komunal, terdapat fasilitas hidroponik, sumur resapan, serta panel surya untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan.

“Berbagai fasilitas tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengelolaan sampah, air, energi, hingga penghijauan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat,” ucap Edi.

Berbagai praktik tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan lingkungan desa tidak harus bergantung pada satu jenis program. Pengolahan limbah, pemilahan sampah, pemanfaatan energi alternatif, dan penghijauan dapat dikembangkan secara saling terhubung sesuai kebutuhan serta kemampuan masyarakat setempat.

Pembelajaran yang diperoleh rombongan kepala desa dari Kecamatan Bati-Bati diharapkan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan inovasi serupa di wilayah masing-masing. Dengan pengelolaan yang tepat dan keterlibatan aktif masyarakat, desa berpeluang mengubah persoalan sampah dan limbah rumah tangga menjadi sumber daya yang mendukung kualitas lingkungan serta pembangunan berkelanjutan. []

Redaksi 01 

About redaksi01

Check Also

Bukan Sekadar Layanan Kesehatan, Posyandu Jepara Dibidik Layani 6 SPM

PDF 📄Pemkab Jepara mendorong pemerataan Posyandu berbasis enam Standar Pelayanan Minimal di 185 desa dan …

Petani Mangga Desa Krasak Dapat Pendampingan, Produktivitas Kebun Digenjot

PDF 📄INDRAMAYU – Petani mangga di Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mendapatkan …

Pemilihan Anggota BPD Dusun Pekat 2 Dikawal, Warga Diminta Jaga Kondusivitas

PDF 📄DOMPU – Pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) perwakilan Dusun Pekat 2, Desa Pekat, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *