Pemanfaatan teknologi Internet of Things di Desa Labuhan, Lamongan, membantu petani melon dan petambak ikan kerapu memantau kualitas tanah, kadar air, serta kecukupan oksigen secara langsung melalui ponsel pintar.
LAMONGAN – Pemanfaatan teknologi digital mulai mengubah cara petani melon dan petambak ikan kerapu dalam mengelola usaha budidaya di Desa Labuhan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Melalui perangkat Internet of Things (IoT), mereka kini dapat memantau kondisi lahan dan kualitas air tambak berdasarkan data terukur melalui ponsel pintar, sehingga pengambilan keputusan dalam perawatan komoditas tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan.
Penerapan teknologi tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah dengan dua perusahaan rintisan (startup), yakni Habibi Garden dan Venambak. Perangkat yang disalurkan memungkinkan petani dan petambak memperoleh informasi mengenai derajat keasaman (pH) tanah, kadar air, serta kecukupan oksigen di tambak secara langsung atau real-time.
Perubahan pola kerja ini dirasakan langsung oleh Iskan, salah seorang petani melon di Desa Labuhan. Ia menilai ketersediaan informasi digital membuat proses pemantauan kondisi tanaman menjadi lebih terarah, terutama ketika menentukan tindakan perawatan yang diperlukan.
“Sebelumnya kami hanya memakai ilmu perkiraan dan perasaan. Begitu ada alat ini, saya menjadi lebih pasti dalam memberikan perawatan terhadap tanaman,” ujar Iskan di sela-sela kegiatan Panen Raya, Teknologi Digital AIoT untuk Petani dan Pembudidaya di Desa Labuhan, Selasa (03/11/2026), sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Selasa, (03/11/2026).
Manfaat serupa dirasakan Karno, petambak ikan kerapu setempat. Perangkat IoT membantunya mengawasi kestabilan oksigen, tingkat saturasi, dan kualitas air tambak secara lebih terukur. Informasi tersebut menjadi pelengkap penggunaan kincir air yang berfungsi membantu menjaga ketersediaan oksigen bagi ikan.
“Kalau ikannya sehat, otomatis nafsu makannya tinggi dan ikannya cepat gemuk,” tuturnya.
Penerapan teknologi berbasis data tersebut juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, pemberian perangkat IoT ditujukan untuk mendukung pengalaman dan kemampuan petani maupun petambak dalam mengenali kondisi lahan serta lingkungan budidaya.
Menurut Meutya, data yang dihasilkan perangkat digital dapat menjadi dasar pertimbangan yang lebih konkret dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan demikian, pengalaman lapangan yang selama ini menjadi modal utama petani dan petambak dapat diperkuat melalui informasi hasil pengukuran teknologi.
Pemerintah juga menyiapkan pengembangan perangkat tersebut melalui integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Penambahan teknologi ini diharapkan memperkaya indikator pemantauan sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan produksi.
“Dengan penggabungan kecerdasan buatan pada perangkat yang Bapak dan Ibu miliki saat ini, indikator yang dapat dipantau nantinya akan semakin kaya, sehingga efisiensinya insyaallah meningkat. Perkembangan teknologi terus melaju pesat, jadi setelah tahap pengenalan ini, kami berencana melakukan upgrade fitur agar lebih lengkap,” jelas Meutya.
Ia berharap pemanfaatan teknologi tersebut tidak berhenti pada tahap pengenalan perangkat, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari. Meutya juga mengingatkan para penerima bantuan agar menjaga dan memaksimalkan penggunaan sarana digital tersebut.
“Mohon alatnya dimanfaatkan secara maksimal dan dijaga dengan sebaik-baiknya,” pungkas Meutya.
Penerapan IoT di Desa Labuhan diharapkan menjadi langkah awal pengembangan budidaya pertanian dan perikanan yang lebih modern. Dengan dukungan data digital dan pengembangan kecerdasan buatan, petani melon serta petambak ikan kerapu diharapkan mampu meningkatkan ketepatan perawatan, menjaga kualitas komoditas, dan mendorong efisiensi produksi yang berdampak pada kesejahteraan mereka. []
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara