Pelatihan yang diinisiasi KIPP mendorong perajin anyaman pandan Kayong Utara memperbaiki kualitas, menghitung harga secara tepat, mengembangkan motif khas pesisir, dan memperluas promosi digital agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
KAYONG UTARA DESA NUSANTARAÂ – Perajin anyaman pandan di Kabupaten Kayong Utara (Kayong Utara), Kalimantan Barat (Kalbar), didorong memperkuat kualitas produk, menetapkan harga secara tepat, dan memperluas pemasaran untuk menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat. Upaya tersebut menjadi fokus pelatihan pengembangan usaha selama empat hari yang diinisiasi Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Sukadana, dengan melibatkan perajin, pendamping komunitas, dan praktisi ekonomi kreatif.
Pelatihan bertajuk “Mengembangkan Keterampilan Anyaman Menjadi Peluang Usaha” itu tidak hanya membahas keterampilan membuat kerajinan, tetapi juga kebutuhan pengembangan produk agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Materi yang diberikan mencakup standardisasi kualitas, penentuan harga, eksplorasi desain, dan fotografi produk untuk mendukung promosi melalui media sosial.
Bagi Safarida, yang akrab disapa Ida, penguatan kemampuan usaha menjadi kebutuhan setelah tiga dekade menekuni kerajinan anyaman. Keterampilan yang diwariskan orang tuanya itu telah berkembang dari pembuatan tikar pandan menjadi beragam produk, seperti tas, kotak tisu, tempat pensil, dan kopiah. Hasil karyanya bahkan pernah dipamerkan di tingkat nasional hingga luar negeri.
Namun, perubahan jumlah pesanan masih menjadi tantangan bagi keberlangsungan usahanya. Ida berharap pelatihan dapat membantunya memahami standar produk dan perhitungan harga secara lebih baik.
“Selama saya mengikuti kegiatan pelatihan ini diajarkan cara membuat produk sesuai standar dan menentukan harga hasil produk tersebut. Selama ini kita kan belum begitu paham, kalau menjual itu asal-asalan saja,” ungkap Ida, sebagaimana diberitakan DetikKalimantan, Kamis (29/10/2026).
Tantangan peningkatan daya saing juga menjadi perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalbar, Hilaria Yusnani. Ia menyebut kerajinan anyaman Sukadana pernah menjadi rujukan bagi sejumlah kabupaten, tetapi perkembangannya mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kerajinan anyaman Sukadana pernah sangat menonjol di Kalimantan Barat, bahkan beberapa kabupaten itu mencontohnya dari Kayong Utara, terutama di dalam pembuatan anyaman yang berbahan dari tikar. Bahkan Ibu Ida ini sudah hampir keliling, dia menjadi trainer untuk di Kalimantan Barat ini,” ujar Hilaria saat membuka kegiatan.
Menurut Hilaria, peningkatan daya saing membutuhkan pembaruan desain, pengerjaan yang rapi, dan akses pasar yang lebih luas. Ketiga aspek tersebut dinilai penting agar kerajinan lokal tidak hanya bertahan sebagai produk tradisional, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional.
“Ada tiga hal penting untuk meningkatkan nilai jual: variasi produk dengan menghindari bentuk monoton, kerapian pembuatan sangat penting agar produk bisa bersaing secara nasional dan memiliki nilai jual lebih tinggi, serta akses pasar,” jelas legislator Hilaria.
Persaingan produk melalui internet juga dirasakan Yuyun Parlina, perajin dari Desa Pelapis. Selama setahun menekuni pembuatan tikar dan tas, ia masih memasarkan produknya secara terbatas di sekitar Sukadana dan Ketapang. Banyaknya pilihan motif yang beredar di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi perajin yang ingin memperluas pasar.
“Sekarang persaingan jual beli cukup ketat dari segi kualitas, kerajinan, dan keterampilan. Apalagi sekarang motif anyaman sudah sangat banyak dan berkembang seperti yang kita lihat di internet atau TikTok, jadi agak susah bersaing di situ,” jelas Yuyun.
Untuk memperkuat ciri khas produk, Chief Executive Officer (CEO) sekaligus pendiri Kampoeng Anyaman Indonesia, Danang Sudrajat, mendorong perajin mengeksplorasi desain yang terinspirasi dari kondisi geografis setempat. Menurutnya, karakter wilayah pesisir dapat menjadi identitas pembeda bagi anyaman Sukadana.
“Ciri khas dari letak geografisnya yang dekat dengan pesisir pantai, sehingga desain anyaman bisa dikolaborasikan dengan ornamen biota laut atau kerang yang tersebar di pesisir Sukadana. Kemudian mengeksplorasi warna-warna khas Kalimantan untuk dijadikan identitas ikonik produk anyaman Sukadana,” kata Danang.
Selain inovasi desain, kemampuan memasarkan produk secara visual juga menjadi bagian dari pelatihan. Para perajin dan pendamping kelompok mendapatkan materi fotografi produk menggunakan ponsel pintar untuk menunjang promosi di berbagai saluran digital.
Dewi Ratna Sari, pendamping kelompok perajin dari Yayasan Palung, menilai materi tersebut dapat membantu kelompok mempromosikan hasil kerajinan secara lebih efektif.
“Kalau ditanya yang paling berkesan, tentunya materi pelatihan foto produk. Itu sangat penting bagi kami sebagai pendamping karena kami membantu mempromosikan produk-produk anggota kelompok ke berbagai platform,” tutur Dewi.
Dukungan terhadap pengembangan kerajinan juga disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kayong Utara, Tengku Mardiana Romi. Ia berharap keterlibatan sektor swasta dan praktisi dapat memperkuat kemampuan perajin dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan kompetitif tanpa meninggalkan identitas budaya setempat.
“Saya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan KIPP sekaligus berharap perajin anyaman Kayong Utara semakin kreatif dan inovatif, mampu menghasilkan produk berkualitas dan berdaya saing, serta menjadikan kerajinan anyaman sebagai peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus melestarikan budaya lokal,” pungkas Tengku Mardiana.
Penguatan kualitas, pembaruan desain, penentuan harga yang terukur, dan promosi yang lebih efektif diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas bagi perajin anyaman Kayong Utara. Dengan demikian, kerajinan berbasis potensi lokal tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat berkembang sebagai sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi keluarga perajin. []
Redaksi 1
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara