Malam Seribu Lilin, Tradisi Leluhur yang Terus Hidup di Kedokan Bunder

Warga Desa Kedokan Bunder menyalakan ribuan lilin di kompleks pemakaman sebagai puncak unjungan tahunan untuk menghormati leluhur dan merawat sejarah desa.

INDRAMAYU DESA NUSANTARA  – Tradisi Malam Seribu Lilin menjadi puncak rangkaian adat unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten di Desa Kedokan Bunder, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Setiap tahun, warga menyalakan ribuan lilin di kompleks pemakaman umum sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menjaga tradisi yang berkaitan dengan sejarah desa.

Cahaya lilin yang menerangi makam keluarga dan makam Buyut Nyimas Ratu Kawunganten menghadirkan suasana khidmat di kompleks pemakaman yang biasanya gelap pada malam hari. Tradisi ini menjadi salah satu penanda kuat identitas budaya masyarakat Kedokan Bunder.

Kepala Desa (Kades) Kedokan Bunder, Waskim, mengatakan penyalaan lilin merupakan bagian rutin dari perayaan adat yang dilaksanakan setiap tahun.

“Tradisi ini setiap tahun kita gelar setiap acara adat unjungan desa,” kata Waskim kepada Kompas, sebagaimana diberitakan pada Senin (26/10/2026).

Menurut Waskim, rangkaian unjungan tidak hanya berisi prosesi penyalaan lilin. Warga juga melaksanakan sedekah bumi, festival arak-arakan, serta tradisi menguras Sumur Gede yang dikenal sebagai sumur bersejarah peninggalan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten.

“Dan tradisi malam seribu lilin ini adalah acara puncaknya,” kata Waskim.

Di balik rangkaian kegiatan tersebut, sosok Nyimas Ratu Kawunganten menempati posisi penting dalam cerita asal-usul Kedokan Bunder. Waskim menjelaskan, tokoh yang diyakini sebagai leluhur desa itu memiliki hubungan dengan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

“Nyi Mas Ratu Kawunganten itu adalah putri dari Adipati Banten. Kebetulan diperistri oleh Sunan Gunung Jati dan diperintahkan untuk menyebarkan agama Islam, serta membabat hutan Lebak Sungsang menjadi pedukuhan, yang sampai sekarang berkembang menjadi Kedokan Bunder,” tuturnya.

Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan sejarah yang diwariskan masyarakat setempat. Melalui unjungan dan Malam Seribu Lilin, warga tidak hanya berkumpul untuk menjalankan kegiatan adat, tetapi juga merawat hubungan dengan sejarah dan identitas komunitas mereka.

Keberlanjutan tradisi ini diharapkan dapat menjaga warisan budaya Kedokan Bunder agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya. Perpaduan ritual penghormatan leluhur, kegiatan sosial, dan cerita sejarah desa menjadikan unjungan sebagai bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat setempat. []

Redaksi 1

About redaksi01

Check Also

Desa Wisata Lombok Didorong Kelola Sampah Secara Mandiri

PDF đź“„MATARAM – Pengelolaan sampah secara mandiri menjadi salah satu langkah yang didorong Pemerintah Provinsi …

Festival Bagamoyo Bidik 6.000 Pengunjung, Usaha Lokal Berpeluang Tumbuh

PDF đź“„BAGAMOYO – Festival Seni dan Budaya Internasional Bagamoyo ke-44 diproyeksikan menjadi ruang promosi bagi …

Tanjakan Terjal dan Aksi Sosial Warnai Ngetrail Bareng di Trenggalek

PDF đź“„Ratusan pengendara motor trail di Trenggalek memadukan kegiatan menjajal jalur perbukitan dengan bakti sosial …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *