Warga Desa Purworejo memanfaatkan lahan wakaf yang sebelumnya dipenuhi sampah daun kering menjadi ruang aktivitas ekonomi melalui Pasar Rakyat Tegal Jati, sekaligus mendorong kebersihan lingkungan dan keterlibatan masyarakat.
MOJOKERTO – Lahan wakaf yang sebelumnya kurang produktif dan dipenuhi sampah daun kering di Dusun Purworejo, Desa Purworejo, Kecamatan Pungging, dimanfaatkan warga menjadi ruang ekonomi melalui Pasar Rakyat Tegal Jati. Inisiatif tersebut tidak hanya membuka tempat berjualan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya warga menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat desa.
Pasar Rakyat Tegal Jati mulai dibuka pada Minggu (6/9/2026) setelah melalui musyawarah warga. Pengelolaannya melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Pedunung Lestari, Paguyuban Sound Miniatur (PSM), serta ibu-ibu pelapak yang sebelumnya berjualan dari rumah maupun di sekitar lingkungan sekolah.
Pemanfaatan lahan tersebut berawal dari kebutuhan untuk mengubah area yang tidak produktif menjadi ruang yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ahmad Munawir, salah satu warga Dusun Purworejo, menjelaskan bahwa lokasi pasar merupakan tanah wakaf masjid yang sebelumnya memiliki persoalan kebersihan.
’’Memang benar, pada hari Minggu, 6 September 2026, kami resmi membuka Pasar Rakyat Tegal Jati,’’ ujar Ahmad Munawir.
Menurut Munawir, warga membersihkan area tersebut karena banyak terdapat sampah daun kering yang berpotensi memicu kebakaran. Setelah dibersihkan, lahan kemudian dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan pasar yang dapat digunakan warga untuk berjualan.
’’Lahan yang kami gunakan merupakan tanah wakaf masjid. Di area ini tadinya banyak sampah daun kering, jadi kami bersihkan agar tidak memicu kebakaran,’’ jelasnya.
Sebagaimana diberitakan Radar Mojokerto, Kamis, (24/09/2026), pasar tersebut untuk sementara digelar dua kali dalam sebulan, yakni pada minggu pertama dan minggu ketiga. Berbagai makanan, minuman, serta jajanan tradisional dijajakan, mulai dari es dawet, bubur, tiwul, getuk, pecel, soto ayam dan daging, nasi jagung, bakso, cilok, hingga lontong jangan.
Pertumbuhan jumlah pelapak juga terlihat sejak pasar pertama digelar. Pada pembukaan awal terdapat 13 lapak, sedangkan penyelenggaraan kedua bertambah menjadi 21 lapak. Harga minuman dimulai dari Rp5.000 dan makanan berkisar Rp12.000.
’’Pada pembukaan awal terdapat 13 lapak, lalu pada gelaran kedua meningkat menjadi 21 lapak. Untuk harga minuman mulai dari Rp 5.000, sedangkan makanan berkisar Rp 12.000,’’ beber Munawir.
Aktivitas pasar dimulai pukul 06.00 WIB hingga dagangan habis. Dari dua kali pelaksanaan, sejumlah lapak bahkan dilaporkan telah banyak terjual sekitar pukul 09.00 WIB.
Bagi masyarakat Desa Purworejo, keberadaan pasar tersebut sekaligus membuka ruang bagi warga yang telah memiliki kegiatan usaha untuk memperluas aktivitas berjualan. Munawir berharap semakin banyak masyarakat ikut bergabung sehingga manfaat kegiatan dapat dirasakan lebih luas.
’’Semoga pasar rakyat ini bisa menunjang perekonomian warga, dan makin banyak masyarakat yang ikut bergabung,’’ imbuhnya.
Pemerintah Desa (Pemdes) Purworejo turut memberikan dukungan terhadap inisiatif warga tersebut. Kepala Desa (Kades) Purworejo Sumadi menilai kegiatan yang tumbuh dari masyarakat dapat memberikan dampak terhadap pendapatan warga apabila dilaksanakan secara konsisten.
’’Kami dari Pemerintah Desa Purworejo sangat mendukung inisiatif para pemuda setempat,’’ tegas Sumadi.
Menurut Sumadi, keberlanjutan pasar dapat diperkuat dengan mempertemukan potensi antar-dusun. Bertambahnya jumlah pedagang dinilai dapat memperkaya pilihan menu dan berpotensi menarik lebih banyak pengunjung.
’’Jika pedagangnya makin banyak, pengunjung juga pasti bertambah karena variasi menu yang disajikan semakin beragam. Penguatan ekonomi secara menyeluruh inilah tujuan utama kita. Saya yakin Pasar Rakyat Tegal Jati bisa terus berkembang jika dikelola secara gotong royong,’’ pungkasnya.
Pemanfaatan lahan wakaf menjadi pasar menunjukkan bahwa ruang yang sebelumnya digunakan untuk menampung sampah daun kering dapat dialihkan menjadi tempat aktivitas ekonomi masyarakat. Keberlanjutan kegiatan tersebut diharapkan tetap berjalan seiring dengan tujuan menjaga kebersihan lingkungan dan memperluas keterlibatan warga dalam penguatan ekonomi desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara