Tujuh Sumur Jadi Jejak Sejarah Desa Pogung di Klaten

Tujuh sumber mata air menjadi bagian penting dari sejarah Desa Pogung, Klaten, sekaligus berkaitan dengan sejumlah cerita masyarakat mengenai asal-usul nama desa tersebut.

JAWA TENGAH – Keberadaan tujuh sumber mata air menjadi bagian penting dari perjalanan Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Selain menjadi sumber kebutuhan warga sejak masa lalu, keberadaan sumur-sumur tersebut turut melekat dalam cerita mengenai sejarah terbentuknya desa dan asal-usul nama Pogung yang diwariskan secara turun-temurun.

Sebagaimana diberitakan TribunSolo, Rabu, (23/09/2026), wilayah Pogung pada masa awal diyakini masih berupa kawasan hutan yang kemudian dibuka untuk permukiman dan lahan pertanian melalui proses babat alas atau pembukaan hutan.

Dalam cerita masyarakat, salah satu versi asal-usul nama Pogung berkaitan dengan percakapan yang muncul ketika warga membuka kawasan tersebut. Ungkapan “wes po gung?” digunakan untuk menanyakan apakah pekerjaan membuka dan membersihkan lahan telah selesai.

Kata “gung” dalam penuturan masyarakat masa lalu diyakini bermakna belum. Ketika diucapkan dengan tempo cepat, rangkaian kata tersebut kemudian terdengar seperti “po gung” dan berkembang menjadi salah satu cerita mengenai asal-usul nama Pogung.

Versi lain mengaitkan nama tersebut dengan sebuah sumber mata air atau sumur tiban yang memiliki debit air besar. Masyarakat pada masa lalu disebut khawatir air dari sumber tersebut meluap sehingga digunakan lempengan berwarna kuning berbentuk menyerupai gong untuk menutup sumber air.

Benda yang bentuknya dianggap menyerupai alat musik tradisional itu kemudian disebut gong oleh masyarakat. Cerita mengenai gong tersebut selanjutnya turut dikaitkan dengan asal-usul nama Pogung.

Sejarah desa juga dikaitkan dengan sosok seorang kyai yang dipercaya menjadi salah satu tokoh awal yang melakukan babat alas di wilayah tersebut. Tokoh itu kemudian dikenal sebagai sesepuh atau leluhur Pogung dan makamnya masih berada di kawasan desa.

Masyarakat juga meyakini tokoh tersebut memiliki peran dalam penyebaran agama Islam di Pogung dan wilayah sekitarnya. Namun, kisah mengenai perjalanan hidup serta aktivitasnya belum didukung bukti sejarah yang kuat sehingga penuturannya lebih banyak berkembang melalui cerita masyarakat dari generasi ke generasi.

Selain cerita mengenai asal-usul nama, tujuh sumber mata air menjadi bagian lain dari sejarah kehidupan masyarakat Pogung. Ketujuh sumur tersebut diyakini telah ada sejak zaman dahulu dan dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan warga.

Salah satu sumber mata air berada di tengah area persawahan dan dikelilingi pagar tembok. Di bagian tengah kawasan tersebut terdapat pohon berukuran besar yang menjadi bagian dari lingkungan sekitar sumber air.

Keberadaan mata air diperkirakan turut mendukung masyarakat ketika wilayah Pogung masih berupa kawasan hutan. Seiring bertambahnya permukiman dan berkembangnya lahan pertanian, sumber air tersebut tetap dimanfaatkan dan dipelihara masyarakat.

Pada musim kemarau, sejumlah sumber air itu masih menjadi andalan warga untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk konsumsi dan mandi. Air sumur juga dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas pertanian yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Pogung.

Sejumlah sumber mata air yang disebut telah berusia ratusan tahun itu tidak hanya dipandang sebagai sumber kehidupan, tetapi juga bagian dari warisan sejarah desa. Masyarakat menjaga kawasan di sekitarnya agar tetap bersih dan tidak tercemar.

Di sekitar beberapa sumur pada masa lalu juga disebut pernah ditemukan benda-benda peninggalan yang dikaitkan dengan masa Hindu. Namun, sebagian benda tersebut kini tidak lagi ditemukan dan diduga hilang karena dicuri.

Saat ini, Pogung menjadi salah satu dari 20 desa di Kecamatan Cawas dengan sekitar 1.200 keluarga. Sebagian masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, sementara desa juga memiliki potensi sumber daya air dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Pemerintah desa pernah mengembangkan gagasan masterplan desa industri kreatif, terutama di Dukuh Niten, untuk mendorong kegiatan ekonomi yang memanfaatkan potensi masyarakat. Di bidang pertanian, wilayah Pogung juga menjadi bagian dari kawasan yang mendukung produksi pangan di Klaten.

Potensi pembangunan berbasis masyarakat turut terlihat dari upaya swadaya dalam membangun jalan desa sepanjang sekitar 1,8 kilometer dengan memanfaatkan limbah batu bara berupa fly ash dan bottom ash dari PLTU Pacitan.

Perjalanan Pogung dari kawasan hutan menjadi permukiman dan wilayah pertanian menunjukkan bahwa sumber daya alam, terutama air, memiliki peran dalam perkembangan kehidupan masyarakat. Di sisi lain, cerita mengenai asal-usul nama dan keberadaan tujuh sumur tetap menjadi bagian dari warisan sejarah lokal yang terus dikenal masyarakat hingga kini. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Siswa SD di Tubuhue Diajak Kenali Bahaya Perundungan

PDF đź“„Mahasiswa KKNDik UM.Koe memberikan edukasi antiperundungan kepada siswa di dua sekolah dasar di Desa …

Dari Tembakau hingga Kuda Kepang, Warisan Bagelen Tetap Terjaga

PDF đź“„Kebiasaan masyarakat perintis dan kesenian seperti wayang kulit serta Kuda Kepang Kijang Kencana menjadi …

Libatkan Warga Lintas Generasi, Desa Miagan Juara 1 Teatrikal Wirosobo Fest

PDF đź“„Keterlibatan warga lintas generasi dalam pertunjukan Dolanan Padang Bulan mengantarkan Desa Miagan meraih juara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *