CIREBON – Pemerintah menyiapkan teknologi budi daya ikan berbasis sistem recirculating aquaculture system (RAS) skala mini untuk diterapkan di desa-desa yang berada jauh dari wilayah pesisir. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pengembangan teknologi Mini RAS tersebut mencapai sekitar 40.000 titik di seluruh Indonesia hingga 2029.
Menteri Kelautan dan Perikanan (Menteri KP) Sakti Wahyu Trenggono mengatakan setiap desa nantinya diarahkan memiliki satu titik budi daya menggunakan teknologi tersebut. Program itu dirancang untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus membangun ekosistem usaha perikanan di wilayah daratan.
“Mini RAS ini upaya untuk meningkatkan produktivitas dari masyarakat, nantinya di setiap desa akan di-install satu,” kata Menteri KP di Cirebon, Jawa Barat, Kamis.
Sebagaimana diberitakan Antara, Kamis, (17/09/2026), teknologi tersebut akan dikembangkan terutama di daerah daratan yang jauh dari pesisir dan laut. Sistem itu sebelumnya telah melalui riset di Norwegia.
“Mini RAS ini adalah teknologi budi daya terkini yang dulu diriset oleh Norwegia selama 50 tahun,” ujarnya.
Tahap awal pengembangan diarahkan ke sejumlah desa di Banten, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogyakarta), dan Jawa Timur. KKP saat ini juga sedang menyiapkan sejumlah lokasi percontohan untuk melihat penerapan sistem tersebut.
Dari satu titik Mini RAS, KKP memperkirakan dapat menghasilkan sekitar 30 ton ikan budi daya. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan sasaran pengembangan terbesar, yakni 5.000 titik.
“Kalau ini di-install tidak kurang dari 5.000 titik di seluruh Jawa Barat. 5.000 titik itu kalau satu lokasinya bisa menghasilkan 30 ton dalam satu tahun. Kalau 30 ton kali 5.000 berarti 150.000 ton. Dan jika hasilnya di kali 20.000 rupiah berarti kira-kira Rp3 triliun setiap tahun akan dihasilkan dari budidaya mini-RAS ini,” katanya menambahkan.
Secara nasional, pengembangan Mini RAS ditargetkan mencapai sekitar 40.000 titik sampai 2029. Penerapannya tidak hanya berfokus pada produksi ikan, tetapi juga mencakup rangkaian kegiatan pendukung mulai dari penyediaan benih, pakan, proses budi daya, hingga pengolahan hasil perikanan.
“Kita akan bangun di setiap desa, ada 40.000 titik kurang lebih se-Indonesia sampai tahun 2029,” ujar Trenggono.
KKP juga membangun pemodelan Mini RAS serta mendorong tumbuhnya industri pendukung agar kegiatan budi daya dapat membentuk ekosistem usaha di tingkat desa. Dengan pola tersebut, teknologi perikanan diharapkan tidak berhenti pada produksi ikan, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan berbagai mata rantai usaha. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara