MAMUJU TENGAH – Penanganan kekeringan di Kabupaten Mamuju Tengah terus diperluas dengan distribusi air bersih yang hingga 12 September 2026 telah menjangkau 4.533 kepala keluarga (KK) atau 18.888 jiwa. Bantuan sebanyak 1.848.850 liter air tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan fasilitas umum di lima kecamatan terdampak.
Dari total distribusi itu, sebanyak 1.429.300 liter air diperuntukkan bagi kebutuhan rumah tangga, sedangkan 419.550 liter lainnya digunakan untuk mendukung kebutuhan 89 fasilitas umum. Penyaluran dilakukan secara berkala berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Staf Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamuju Tengah, Rezky Ilhamsyah, mengatakan penanganan telah dilakukan di sebagian besar wilayah yang terdampak. Dari 39 desa yang mengalami kekeringan, sebanyak 32 desa telah mendapatkan penanganan.
“Hingga pertengahan September ini, dari total 39 desa terdampak kekeringan di Kabupaten Mamuju Tengah, sebanyak 32 desa telah berhasil tertangani,” ujar Rezky, sebagaimana diberitakan Tribun Sulbar, Rabu, (16/09/2026).
Kecamatan Topoyo menjadi wilayah dengan distribusi air terbesar. Sebanyak 905.030 liter air telah disalurkan kepada 1.884 KK atau 8.496 jiwa yang tersebar di 13 desa. Bantuan juga diberikan kepada 44 fasilitas umum di wilayah tersebut.
Di Kecamatan Budong-Budong, distribusi mencapai 419.420 liter untuk memenuhi kebutuhan 1.109 KK atau 4.073 jiwa di enam desa. Sebanyak 22 fasilitas umum turut memperoleh pasokan air.
Sementara itu, Kecamatan Tobadak menerima 334.400 liter air yang disalurkan kepada 790 KK atau 3.665 jiwa di empat desa serta 19 fasilitas umum.
Distribusi berikutnya dilakukan di Kecamatan Pangale dengan jumlah 103.000 liter air. Bantuan tersebut menjangkau 570 KK atau 1.995 jiwa di enam desa dan satu fasilitas umum.
Adapun Kecamatan Karossa menerima 87.000 liter air bersih. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 180 KK atau 659 jiwa di tiga desa serta tiga fasilitas umum.
Penyaluran ke berbagai wilayah tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah daerah terhadap kondisi kekeringan yang masih berlangsung. Selain memenuhi kebutuhan dasar warga, distribusi air juga diarahkan agar pelayanan di fasilitas umum tetap dapat berjalan.
Rezky mengimbau masyarakat penerima bantuan menggunakan air secara bijak dengan mengutamakan kebutuhan domestik yang paling mendasar. Langkah tersebut dinilai penting karena pasokan harus disesuaikan dengan kondisi kekeringan dan kebutuhan warga di setiap wilayah.
Di sisi lain, Satgas Tanggap Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih memperbarui data kondisi di lapangan. Pemutakhiran tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan dampak kekeringan sekaligus menentukan langkah penanganan berikutnya.
“Kami akan terus memperbarui data situasi riil di lapangan guna mengambil langkah mitigasi cepat, tepat, dan terukur,” pungkasnya.
Masih adanya desa yang belum tertangani membuat distribusi air bersih akan terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Pemutakhiran data menjadi dasar untuk menentukan wilayah yang memerlukan penanganan berikutnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara