SEMARANG – Sebanyak 537 gagasan yang dihasilkan Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Jawa Tengah (Pusaka Jateng) 2026 berpeluang menjadi bahan pertimbangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) dalam menyusun kebijakan pembangunan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2027.
Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan hasil forum tersebut dapat memperkaya referensi pemerintah dalam menentukan kebijakan, terutama untuk mengembangkan pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Ekonomi Puncak Pusaka Jateng 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jateng di Semarang.
Pusaka Jateng 2026 mengangkat tema “Transformasi Pariwisata Jawa Tengah sebagai Sumber Pertumbuhan Baru yang Inklusif dan Berkelanjutan”. Tema tersebut sejalan dengan arah pembangunan Jateng pada 2027 yang akan mendorong pariwisata berkelanjutan dan ramah Muslim sekaligus mengembangkan ekonomi syariah.
Menurut Taj Yasin, keberhasilan sektor pariwisata tidak cukup diukur dari banyaknya wisatawan yang datang. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan ialah kunjungan berulang karena menunjukkan ketertarikan wisatawan serta pengalaman positif selama berada di Jateng.
Ia menilai aktivitas wisata juga harus menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas dengan menghubungkan pergerakan wisatawan dengan pelaku UMKM dan potensi ekonomi di desa-desa.
“Sesungguhnya wisata ini hanya pemantik. Yang paling utama adalah mereka akan membelanjakan, beli oleh-olehnya di UMKM yang ada di desa-desa,” katanya.
Selain mengandalkan destinasi alam dan wahana, Pemprov Jateng berencana memperluas pilihan wisata melalui pengembangan wisata industri. Konsep tersebut diharapkan dapat memperkenalkan potensi ekonomi daerah sekaligus membuka peluang investasi.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jateng Mohamad Noor Nugroho mengatakan Pusaka Jateng merupakan forum untuk merumuskan rekomendasi kebijakan bagi Pemprov Jateng. Forum tersebut sejalan dengan fungsi BI sebagai advisor bagi pemerintah.
Pusaka Jateng 2026 merupakan penyelenggaraan kelima. Rangkaian forum diawali dengan call for paper yang menghasilkan lebih dari 537 abstrak, kemudian diseleksi menjadi 100 paper dan 30 paper untuk memasuki tahap penjurian hingga menghasilkan enam pemenang.
“Mudah-mudahan paper-paper ini bisa dimanfaatkan untuk kita semua, baik Pemprov maupun stakeholder lainnya untuk mengambil kebijakan yang terkait dengan perekonomian dan khususnya pariwisata,” katanya.
Sejumlah kajian yang masuk dalam kompetisi tersebut juga secara langsung menyoroti potensi desa wisata. Juara kedua diraih Regina Arva Salsabila, Daffa Rahmad Nabil, dan Sandira Ulima Yassar melalui paper berjudul “Jelajah LEREP: Evaluasi Ex-Ante Kebijakan Integrasi Lima Atraksi Desa Wisata Lerep Berbasis Jejak Digital, Deep Learning, dan Agent-Based Modeling”.
Sementara itu, juara pertama diraih Bayu Dwi Kurniawan, Yohanes Eki, dan Dede Yoga melalui paper “Transformasi Industri Menuju Ekonomi Sirkular: Identifikasi Sumber Pertumbuhan Baru untuk Mendorong Produktivitas Hijau di Pantura Jawa Tengah”.
Juara ketiga diraih Manuel Exaudi Hutajulu, Firda Putri Kurniasari, dan Patricia Eunike Vanuela Simarmata melalui paper “Mampukah Pariwisata Mendorong Sektor Riil dan Pendapatan Fiskal Daerah? Analisis Heterogenitas Dampak Pengembangan Desa Wisata di Jawa Tengah”.
Dengan ratusan gagasan dan sejumlah kajian yang secara khusus menelaah desa wisata, hasil Pusaka Jateng 2026 diharapkan dapat memperkuat dasar perumusan kebijakan ekonomi dan pariwisata Jateng pada 2027. Sebagaimana diberitakan Jateng Antaranews, Sabtu, (12/09/2026), rekomendasi tersebut diarahkan agar pengembangan pariwisata tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi hingga tingkat masyarakat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara