MANGGARAI – Kebutuhan ibu, bayi, dan anak menjadi perhatian utama Tim Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Siaga Bencana saat menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai (Manggarai), Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (23/8/2026).
Fokus tersebut dilakukan karena sejumlah warga masih bertahan di lokasi pengungsian setelah rumah mereka mengalami kerusakan akibat gempa. Selain bantuan pangan, tim juga menyiapkan kebutuhan khusus seperti perlengkapan bayi, selimut, tenda, obat-obatan, dan vitamin.
Ketua Tim ESDM Siaga Bencana Rudy Sufahriadi mengatakan kebutuhan masyarakat dihimpun melalui peninjauan langsung di sejumlah titik terdampak. Ia menyebut kebutuhan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas karena bantuan sembako secara umum dinilai sudah mencukupi.
“Dukungan pertama adalah kebutuhan ibu dan anak, makanan pokoknya masyarakat, itu yang pertama dulu. Sembakonya masyarakat ternyata sudah cukup, kebutuhan ibu dan anak ada beberapa yang harus dipenuhi,” kata Rudy di Posko Dua ESDM Siaga Bencana, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Minggu, sebagaimana diberitakan Antara, Minggu, (23/08/2026).
Menurut Rudy, kebutuhan yang belum tersedia telah dicatat untuk segera ditindaklanjuti. Sejumlah bantuan juga telah disiapkan dan masih dalam perjalanan menuju wilayah terdampak.
“Ada permintaan yang masih ada di jalan, sebelum masyarakat minta kita sudah siapkan, tinggal nunggu kedatangan. Antara lain tenda dan selimut buat bayi,” ujar dia.
Di Posko Dua ESDM Siaga Bencana Wilayah Tengah di Reok, tim menyalurkan bantuan pangan berupa 100 karung beras, 20 dus mi instan, lima dus bubur bayi, 10 dus susu, 100 bungkus gula pasir, serta 100 botol minyak goreng.
Bantuan kesehatan turut diberikan berupa 15 jenis obat, vitamin, dan kebutuhan medis habis pakai, masing-masing sebanyak 30 boks. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan penanganan demam, batuk, diare, alergi dan gatal, serta oralit, vitamin anak, pembalut wanita, dan minyak kayu putih.
Jangkauan bantuan juga diperluas ke lokasi yang lebih jauh karena titik terdampak gempa tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat distribusi bantuan tidak dapat hanya dipusatkan pada satu lokasi pengungsian.
“Bencana ini kan parsial ya, tempatnya banyak, kecil-kecil, enggak di satu tempat. Jadi memang harus kita memperhatikan pertama karena lokasinya jauh-jauh, tempatnya banyak,” ujar Rudy.
Kebutuhan mendesak juga dirasakan warga di posko pengungsian mandiri di Desa Salama, Kecamatan Reok. Salah seorang warga, Marifah (50), mengatakan tenda, selimut, dan terpal masih menjadi kebutuhan utama karena sebagian warga belum berani kembali ke rumah.
“Paling butuh saat ini kita tenda sama selimut. Soalnya malam dingin sekali. Sama terpal juga, terpal seadanya kita pakai di tanah,” katanya.
Menurut Marifah, kebutuhan bayi seperti popok, minyak telon, minyak kayu putih, dan susu juga masih diperlukan. Sejumlah toko di sekitar tempat tinggal warga disebut tutup setelah gempa sehingga pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi lebih sulit.
Posko mandiri tersebut menampung sekitar 30 orang, termasuk bayi dan balita. Sebagian warga masih memenuhi kebutuhan secara mandiri, termasuk memasak menggunakan kayu bakar.
Berdasarkan pemutakhiran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu (22/8/2026) pukul 16.00 WIB, terdapat 41.427 pengungsi dan 285 korban luka di Manggarai. Secara keseluruhan, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di NTT menyebabkan 150.576 orang mengungsi.
BNPB juga mencatat 954 ton bantuan logistik telah didistribusikan ke wilayah terdampak sejak 15 hingga 22 Agustus melalui Labuan Bajo dan Maumere untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara