WONOSOBO – Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memperkuat sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan alternatif di tengah berkurangnya Dana Desa pada 2026. Strategi tersebut sekaligus diarahkan untuk memperluas lapangan kerja dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.
Kepala Desa (Kades) Patak Banteng, Mashud, mengatakan aktivitas wisata Gunung Prau telah menciptakan berbagai peluang ekonomi bagi warga. Masyarakat tidak hanya terlibat dalam pengelolaan destinasi, tetapi juga memperoleh penghasilan dari jasa parkir, ojek, porter pendakian, kendaraan wisata petualangan, hingga penginapan.
“Ekonomi yang paling cepat adalah satu wisata kemudian yang dua UMKM,” kata Mashud kepada Tribunjateng.com, Selasa (18/8/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Jateng, Selasa, (18/08/2026).
Menurut Mashud, jumlah penduduk Patak Banteng sekitar 3.000 orang. Mata pencaharian warga kini relatif terbagi antara sektor pertanian dan pariwisata.
“Di sektor wisata 50 persen, pertanian 50 persen,” ujarnya.
Perubahan tersebut terjadi setelah desa mendorong diversifikasi ekonomi yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada pertanian. Pertumbuhan kunjungan wisata kemudian membuka ruang bagi warga untuk menjalankan usaha yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas pendakian.
Besarnya arus wisatawan juga memberikan dampak terhadap aksesibilitas desa. Pelebaran dan perbaikan jalan disebut membantu menekan biaya pengangkutan hasil pertanian sekaligus mempermudah mobilitas masyarakat.
Mashud mencontohkan, biaya pengangkutan hasil pertanian yang sebelumnya mencapai sekitar Rp10.000 per pikul dapat ditekan menjadi sekitar Rp2.000 dengan memanfaatkan jasa ojek setelah akses jalan membaik.
Perbaikan infrastruktur tersebut turut memengaruhi nilai ekonomi kawasan. Menurut Mashud, harga tanah di lokasi tertentu yang sebelumnya sekitar Rp100 ribu per meter kini dapat mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per meter setelah akses jalan mengalami perbaikan.
“Ekonomi meningkat terus. Makanya kita mengembangkan wisata, PADes kita besarkan agar bisa bangun lagi,” katanya.
Salah satu sumber pendapatan desa berasal dari aktivitas wisata yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pendapatan dari kegiatan pendakian Gunung Prau tercatat sekitar Rp245 juta pada 2024 dan meningkat menjadi sekitar Rp371 juta pada 2025.
“Kemudian yang lain kita tambah-tambahkan, ini sekitar hampir, dengan BUMDes-nya itu sekitar 700-an kira-kira,” kata Mashud.
Pertumbuhan pendapatan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan. Data Basecamp Patak Banteng menunjukkan sekitar 60.000 pengunjung tercatat pada 2024, kemudian meningkat menjadi sekitar 120.000 orang pada 2025.
Sepanjang 2026, kunjungan wisata masih berlangsung dengan rata-rata sekitar 20.000 orang per bulan. Saat libur panjang, jumlah pendaki yang melewati jalur Patak Banteng bahkan dapat menembus lebih dari 800 orang dalam sehari.
Arus wisatawan tersebut menjadi modal ekonomi bagi desa untuk menghadapi keterbatasan anggaran. Mashud menyebut dana yang tersedia bagi desa pada 2026 sekitar Rp300 juta sehingga ruang pemerintah desa untuk membiayai pembangunan menjadi lebih terbatas.
“Kalau lusa tidak keluar, kami sudah siap, karena PADes kita sudah mencukupi,” ujarnya.
Meski memiliki sumber pendapatan dari pariwisata, Mashud mengakui pengurangan Dana Desa tetap berdampak terhadap kemampuan pembangunan.
“Jangan bermimpi untuk membangun kalau cuma uang segitu,” kata Mashud.
Penguatan pendapatan desa juga dikaitkan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Mashud menyebut angka kemiskinan di wilayah tersebut mengalami penurunan setelah pengelolaan ekonomi dilakukan secara berkelanjutan.
“Kemiskinan yang dulu 25 persen, sekarang kita kelola dengan baik menjadi di bawah 2 persen, bahkan sudah nol koma,” kata Mashud.
Selain meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), pengembangan wisata diharapkan terus menciptakan kesempatan kerja dan memperbesar pendapatan warga. Desa juga berencana mengembangkan potensi wisata lain, termasuk wisata kebun carica, agar kunjungan wisatawan tidak hanya terpusat pada jalur pendakian Gunung Prau.
“Jadi kita hidup ini belajar mandiri,” katanya.
Dengan potensi kunjungan yang terus tumbuh, Patak Banteng menempatkan pariwisata sebagai salah satu fondasi kemandirian ekonomi desa. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjaga perputaran ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat kemampuan desa membiayai pembangunan secara mandiri. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara