ACEH – Pemerintah kembali membangun Madrasah Ibtidaiyah Negeri 5 Pidie Jaya yang sebelumnya hancur diterjang banjir pada akhir November 2025. Pembangunan sekolah di Desa Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, dilakukan di atas lahan hibah masyarakat dengan dukungan anggaran Rp12 miliar.
Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar pada Selasa (11/8/2026). Sekolah baru tersebut dibangun dua lantai di lahan persawahan seluas 6.050 meter persegi dan berjarak sekitar 350 meter dari lokasi sekolah sebelumnya.
“Ini kita akan bangun dua lantai, yang bisa menampung seluruh keperluan warga masyarakat kita,” kata Nasaruddin Umar di Pidie Jaya, Selasa.
Sebagaimana diberitakan Antara, Selasa, (11/08/2026), lahan pembangunan diperoleh melalui hibah masyarakat yang kemudian diserahkan kepada Kementerian Agama (Kemenag) untuk pembangunan kembali madrasah. Penyerahan tersebut ditandai dengan pemberian sertifikat hibah tanah kepada Kemenag.
Pembangunan gedung beserta penyediaan perlengkapan sekolah didukung anggaran Rp12 miliar dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag. Fasilitas yang disiapkan meliputi masjid, perumahan guru, laboratorium, perpustakaan, halaman, dan kantin.
Nasaruddin mengatakan pembangunan kembali sekolah itu merupakan bagian dari janji yang disampaikannya kepada masyarakat saat datang ke Pidie Jaya setelah bencana terjadi.
“Alhamdulillah, beberapa saat setelah kejadian saya datang ke tempat ini, dan saya menjanjikan kepada warga masyarakat setempat. Insya Allah, sekolah yang hilang, mudah-mudahan akan datang penggantinya lebih baik lagi,” ujarnya.
Desain bangunan disusun secara sukarela oleh arsitek dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Pemerintah menargetkan pembangunan selesai kurang dari satu tahun karena seluruh anggaran telah tersedia, sementara para siswa masih mengikuti kegiatan belajar di balai pengajian.
“Semua keperluan sekolah, insya Allah akan hadir di tempat ini, dan insya Allah mudah-mudahan sekolahnya akan jauh lebih baik dari yang telah meninggalkan kita,” katanya.
“Semakin cepat lebih baik, supaya anak-anak kita nanti bisa menempati sekolah yang lebih memadai,” tegasnya.
Menurut Nasaruddin, lokasi baru tetap berada di lingkungan desa sehingga akses siswa menuju sekolah tidak berubah jauh dibandingkan lokasi sebelumnya. Pemindahan lokasi dari bantaran sungai juga menjadi bagian dari pembangunan kembali fasilitas pendidikan setelah terdampak banjir.
“Saya ucapkan, selamat kepada warga masyarakat setempat, terutama anak-anakku semuanya. Mudah-mudahan secepatnya bisa menempati sekolah baru yang indah, kuat dan berkah,” ujar Nasaruddin Umar.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Aceh Azhari mengatakan proses pembangunan sempat menunggu penyelesaian hibah lahan dan sertifikat. Menurut dia, proses tersebut berlangsung sekitar tiga bulan sebelum tanah resmi diserahkan kepada Kemenag.
“Prosesnya sampai tiga bulan, sertifikat diserahkan, di hibah kepada Kemenag untuk dibangun kembali. Ini betul-betul kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah,” demikian Azhari.
Kehadiran sekolah baru diharapkan segera mengakhiri penggunaan balai pengajian sebagai tempat belajar sementara. Pembangunan fasilitas pendidikan permanen tersebut sekaligus menunjukkan kolaborasi masyarakat dan pemerintah dalam memulihkan layanan pendidikan di wilayah yang sebelumnya terdampak bencana. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara