BOYOLALI – Krisis air bersih selama musim kemarau mulai mengancam keberlangsungan mata pencaharian warga di sejumlah desa di Kabupaten Boyolali (Boyolali) dan Kabupaten Grobogan (Grobogan), Jawa Tengah. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menghambat aktivitas pertanian dan peternakan masyarakat.
Dompet Dhuafa Jawa Tengah merespons kondisi tersebut dengan menyalurkan 36.000 liter air bersih kepada sekitar 370 warga di Boyolali dan Grobogan. Bantuan itu didistribusikan menggunakan empat truk tangki berkapasitas masing-masing 9.000 liter pada akhir Juli 2026.
“Pada akhir Juli 2026, sebanyak empat truk tangki dengan kapasitas masing-masing 9.000 liter didistribusikan ke wilayah terdampak. Total 36.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 370 warga di dua kabupaten,” kata Nur Cholis, Dai Pemberdaya Dompet Dhuafa Jawa Tengah melalui rilis diterima ANTARA, Senin, 10 Agustus 2026, sebagaimana diberitakan Antara.
Di Boyolali, bantuan menyasar Dukuh Joho, Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi. Kekeringan di wilayah tersebut berdampak langsung terhadap warga yang menggantungkan penghasilan dari pertanian dan peternakan.
“Karena ladang juga terdampak kekeringan sehingga tidak bisa menanam lagi. Akhirnya keluarga bersama-sama mencari air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petani menghadapi risiko lebih besar memasuki masa paceklik. Mayoritas warga Dukuh Joho merupakan petani jagung yang menggarap lahan milik Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perhutani) dengan sistem sewa sekitar Rp1,3 juta setiap musim panen.
Selain kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, berkurangnya ketersediaan air juga memengaruhi keberlangsungan peternakan domba dan sapi yang menjadi mata pencaharian sebagian warga.
Sementara itu, di Grobogan, krisis air bersih terjadi di Dukuh Kedung Bunder, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati. Sebanyak 120 kepala keluarga mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih sejak pertengahan Juli 2026.
Warga bahkan memanfaatkan dasar sungai yang mengering dengan menggali sumur-sumur kecil untuk memperoleh rembesan air. Kondisi serupa terjadi di Dukuh Brumbung, Desa Panimbo, Kecamatan Kedungjati, yang sejak akhir Juli 2026 menghadapi kesulitan air dan berdampak terhadap sekitar 80 kepala keluarga.
“Untuk itulah, kata dia, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan air bersih terhadap warga terdampak.”
Di tengah menyusutnya sumber air, sumur galian di sekitar sungai yang mengering menjadi salah satu tumpuan warga. Namun, akses menuju sumber air tersebut tidak mudah. Warga Dukuh Joho harus menempuh jarak sekitar 500 meter hingga 1 kilometer, dengan sebagian menggunakan sepeda motor dan lainnya berjalan kaki sambil membawa jeriken.
“Sungai yang mengering, justru itu menjadi satu-satunya harapan. Karena di dekat sungai, warga menggali lubang kecil mirip dengan sumur hingga muncul rembesan air. Sumur itulah yang kini menjadi sumber kehidupan.”
Penyaluran air bersih diharapkan dapat membantu warga melewati masa kekeringan sekaligus mengurangi tekanan terhadap rumah tangga yang kehilangan kesempatan bercocok tanam. Bagi masyarakat yang menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian dan peternakan, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk mempertahankan aktivitas ekonomi hingga musim tanam berikutnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara