TANGERANG – Universitas Mercu Buana (UMB) memperkuat pemberdayaan masyarakat di Desa Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, melalui program terpadu pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pengembangan usaha pangan lokal, serta gerakan penanaman kelor. Program yang telah memasuki tahap implementasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan perekonomian warga desa.
Program tersebut dimulai dengan penyerahan berbagai peralatan Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada Karang Taruna Desa Pondok Kelor dan kelompok usaha pangan lokal di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada Jumat (10/7/2026). Kegiatan itu menjadi tindak lanjut dari proses pendampingan yang telah berlangsung sejak April 2026.
Ketua Tim Program Pemberdayaan Desa Binaan UMB, Desiana Vidayanti, mengatakan teknologi yang diberikan merupakan bagian dari sistem yang dirancang agar dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
“Hari ini bukan sekadar penyerahan alat, tetapi awal implementasi sistem yang telah kami bangun bersama masyarakat. Kami berharap pengelolaan sampah semakin tertata, usaha pangan lokal berkembang, dan identitas Desa Pondok Kelor sebagai desa kelor dapat hidup kembali,” ujar Desiana, sebagaimana dilansir Republika, Selasa (14/07/2026).
Desa Pondok Kelor selama ini menghadapi persoalan belum tersedianya sistem pengelolaan sampah yang terorganisasi, sementara tanaman kelor yang menjadi identitas desa semakin berkurang dan belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan maupun potensi ekonomi masyarakat.
Melalui program tersebut, Karang Taruna memperoleh dukungan teknologi pengelolaan sampah berbasis masyarakat beserta pendampingan gerakan penanaman kelor. Di sisi lain, kelompok usaha pangan lokal mendapatkan peralatan produksi, pendampingan manajemen usaha, literasi keuangan, serta peningkatan mutu produk.
Program ini dijalankan oleh tim multidisiplin UMB bersama Universitas Dian Nusantara (Undira). Selain dosen, mahasiswa UMB turut dilibatkan sebagai fasilitator dalam pelatihan, pendampingan, pemantauan, hingga evaluasi kegiatan di lapangan.
Kepala Desa (Kades) Pondok Kelor Junaedi menyebut program tersebut menjawab kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah secara terpadu.
“Kami berharap pendampingan dari UMB menjadi awal terbentuknya sistem yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” kata Junaedi.
Program Pemberdayaan Desa Binaan dirancang berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun pertama, fokus kegiatan diarahkan pada pembangunan sistem pengelolaan sampah, gerakan penanaman kelor, serta penguatan kelompok usaha pangan lokal. Tahap berikutnya akan difokuskan pada pengembangan usaha dan penguatan kelembagaan agar seluruh program dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui inisiatif tersebut, UMB menargetkan Desa Pondok Kelor mampu menjadi contoh desa peri-urban yang berhasil mengintegrasikan pengelolaan sampah, penguatan pangan lokal, serta peningkatan ekonomi masyarakat berbasis potensi desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara