JAKARTA – Program pengembangan pertanian dan perikanan berbasis teknologi yang dijalankan Pemerintah Indonesia bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) mendapat perhatian dalam Konferensi Global FAO di Roma, Italia. Sejumlah inisiatif mulai dari modernisasi pengolahan sagu di Papua, desa perikanan cerdas di Jawa Barat, hingga pertanian presisi untuk petani pisang di Jawa Timur ditampilkan sebagai contoh penerapan sistem agripangan berkelanjutan.
Berbagai program tersebut diperkenalkan melalui pameran kuliner bertajuk Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods yang digelar di Foods Lab, FAO Museum, Roma, Rabu (1/7). Kegiatan itu merupakan kolaborasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma dengan Kantor Perwakilan FAO di Indonesia sebagai bagian dari Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas.
Selain memamerkan inovasi pertanian, Indonesia juga menyajikan aneka hidangan berbahan dasar sagu yang didatangkan langsung dari petani lokal sebagai komoditas pangan yang dinilai tahan terhadap perubahan iklim. Sajian tersebut meliputi papeda dengan sup ikan tuna kuning, mi sagu goreng pedas, serta eurimoo, hidangan penutup berbahan sagu dan pisang matang yang menggunakan pisang Mas Kirana dari Jawa Timur.
Setelah menyaksikan proses memasak, para peserta dari berbagai negara mencicipi hidangan khas Indonesia. Respons positif pun diberikan terhadap olahan sagu sebagai pangan lokal yang bergizi dan berkelanjutan.
“Harus saya akui meskipun saya tidak suka mie pada umumnya, tetapi saya terkejut bahwa saya bisa menyukai mie yang terbuat dari sagu ini. Rasanya segar, dan bisa disajikan sebagai salad, rasanya tidak terlalu berat,” ujar seorang peserta dari Rwanda, sebagaimana diberitakan Koran Jakarta, Jumat (03/07/2026).
Olahan mi sagu juga mendapat apresiasi dari peserta asal Jepang karena “keseimbangan rasa manis dan pedasnya”.
Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi wujud sinergi jangka panjang dalam membangun sistem pangan berkelanjutan.
“Beragam hidangan khas Indonesia yang disuguhkan pada acara ini adalah wujud kemitraan jangka panjang antara pemerintah Indonesia, masyarakat setempat, dan FAO”.
“Kami menggabungkan tradisi, inovasi, dan tindakan nyata untuk mewujudkan produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan penghidupan yang lebih baik untuk semua—tanpa meninggalkan siapa pun,” ujarnya.
Program yang dipamerkan meliputi modernisasi pengolahan sagu di Desa Yoboi, Provinsi Papua, sehingga waktu produksi berkurang dari beberapa hari menjadi sekitar lima jam. Selain itu, FAO bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung transformasi desa perikanan di Bogor, Jawa Barat, menjadi kawasan perikanan modern yang sejalan dengan visi Ekonomi Biru Indonesia.
Tidak hanya itu, program Petani Keren juga mendorong generasi muda di Lampung untuk memanfaatkan teknologi rumah kaca dan pendekatan kewirausahaan dalam budi daya cabai. Sementara di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, petani pisang Mas Kirana memperoleh dukungan melalui program One Country One Priority Product (OCOP) dengan penerapan teknologi pertanian presisi dan sistem pemantauan tanah berbasis internet of things (IoT) guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha tani. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara