LOMBOK TENGAH – Berugak dan lumbung padi tradisional di Desa Sukarara menjadi warisan budaya masyarakat Sasak yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga menyimpan nilai-nilai sains, pendidikan, dan ekowisata yang berpotensi dikembangkan sebagai sarana pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Tradisi berugak dan lumbung padi yang masih dipertahankan masyarakat Desa Sukarara menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal diwariskan secara turun-temurun dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bangunan tradisional tersebut memanfaatkan bahan alami seperti kayu, bambu, alang-alang, dan tanah liat yang dipilih berdasarkan karakteristik lingkungan setempat.
Keberadaan berugak dan lumbung padi mencerminkan kemampuan masyarakat Sasak dalam mengembangkan sistem penyimpanan pangan yang ramah lingkungan. Struktur bangunan dirancang untuk menjaga kualitas gabah, mengurangi risiko serangan hama, serta menyesuaikan diri dengan kondisi iklim tropis dan potensi bencana alam yang kerap terjadi di Pulau Lombok.
Selain berfungsi sebagai sarana penyimpanan hasil pertanian, bangunan tradisional tersebut juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Sukarara yang dikenal sebagai desa wisata budaya. Keunikan arsitektur dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal kehidupan masyarakat Sasak secara lebih dekat.
Sebagaimana diwartakan Kompasiana, Rabu (03/06/2026), kajian etnosains terhadap berugak dan lumbung padi menunjukkan adanya keterkaitan antara pengetahuan tradisional masyarakat dengan konsep ilmiah modern, mulai dari biologi, ekologi, hingga teknologi penyimpanan pangan.
Dalam perspektif ilmiah, penggunaan alang-alang sebagai atap bangunan berfungsi sebagai isolator panas alami yang membantu menjaga kestabilan suhu di dalam lumbung. Sementara itu, desain bangunan panggung dan pemasangan pelindung pada tiang menjadi strategi efektif untuk menghambat serangan tikus dan hama lainnya.
Dinding anyaman bambu yang digunakan pada lumbung juga memungkinkan terjadinya ventilasi silang sehingga kelembapan udara tetap terjaga. Kondisi tersebut membantu mengurangi pertumbuhan jamur yang dapat merusak kualitas gabah selama masa penyimpanan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam berugak dan lumbung padi dinilai relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah. Melalui pendekatan etnosains, peserta didik dapat memahami hubungan antara ilmu pengetahuan dengan praktik budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat.
Selain mendukung pendidikan, pelestarian berugak dan lumbung padi diharapkan mampu memperkuat sektor wisata berbasis budaya sekaligus menjaga keberlanjutan warisan leluhur masyarakat Sasak agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara