KUPANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor pariwisata serta desa wisata melalui Bootcamp UMKM Pariwisata 2026 di Kota Kupang. Program tersebut disiapkan untuk mendukung kesiapan pelaku usaha lokal menghadapi peningkatan kunjungan wisatawan, termasuk turis kapal pesiar yang mulai ramai masuk ke NTT.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (26/5/2026) itu digelar bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT dengan mengusung tema “Jelajah Flobamorata untuk Membangun Nusantara”. Program tersebut difokuskan pada penguatan kualitas layanan, peningkatan kemampuan digital, akses pasar, hingga pengembangan produk UMKM berbasis pariwisata.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Rio Khasananda, menilai sektor pariwisata di NTT masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila didukung kesiapan pelaku usaha lokal dan desa wisata.
“Penguatan kapasitas menjadi langkah penting agar UMKM NTT mampu naik kelas dan menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata daerah, termasuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk melayani wisatawan mancanegara,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Teropong News, Kamis (28/05/2026).
Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT juga mengapresiasi sinergi BI, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, serta Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) NTT dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis ekonomi masyarakat.
Pengembangan sektor wisata di NTT saat ini diarahkan pada penguatan desa wisata sebagai etalase budaya daerah. Dalam konsep tersebut, UMKM lokal didorong menjadi penyedia produk unggulan, mulai dari kuliner, kriya, hingga layanan pendukung wisata yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi wisatawan.
Bootcamp tersebut diikuti 30 pelaku UMKM dari desa wisata dan sektor pendukung pariwisata lainnya, seperti kuliner dan kerajinan tangan. Peserta mendapatkan pelatihan mengenai kebijakan pembangunan pariwisata NTT, pengembangan destinasi dan promosi, konsep pariwisata hijau dan perhotelan, penyusunan Business Model Canvas (BMC), pelatihan bahasa Inggris untuk pariwisata, hingga akses pembiayaan UMKM.
Melalui program itu, BI berharap pelaku UMKM dan pengelola desa wisata di NTT semakin siap menghadapi lonjakan wisatawan dan mampu meningkatkan daya saing usaha secara berkelanjutan. Penguatan kapasitas masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk mewujudkan sektor pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan di NTT. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara