WONOSOBO – Di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, toleransi antarumat beragama terjalin erat meski warga hidup dalam kesederhanaan dan didominasi aktivitas pertanian. Ladang kentang yang membentang luas menjadi saksi hidup bagaimana masyarakat setempat saling mendukung satu sama lain, baik dalam kegiatan ekonomi maupun sosial, tanpa terpengaruh perbedaan agama.
Dalam kegiatan Local Immersion, pengamat mencatat keluarga asuh yang memeluk agama Katolik tetap menjalin hubungan harmonis dengan anggota komunitas yang berbeda keyakinan. Orang tua asuh memiliki dua anak yang masih bersekolah, dengan penghasilan utama dari panen kentang yang dijual ke pasar. “Walaupun agama kami berbeda tetapi sifat toleransi tetaplah kuat. Saya menghormati mereka, dan mereka menghormati saya saat sedang beribadah,” ungkap pengamat sebagaimana dilansir Kompasiana, Senin, (12/05/2026).
Observasi menunjukkan keluarga di Desa Buntu membuktikan peran penting lembaga keluarga dalam menjaga integrasi sosial. Analisis sosiologi menurut Emile Durkheim menekankan bahwa agama berfungsi menciptakan solidaritas dalam masyarakat, namun di keluarga asuh, solidaritas juga dibangun melalui hubungan keluarga dan nilai toleransi. Talcott Parsons menambahkan bahwa keluarga berfungsi menjaga stabilitas sosial melalui sosialisasi nilai dan norma kepada anggota keluarga, sehingga perbedaan tidak menimbulkan konflik.
Kehidupan masyarakat Desa Buntu yang sederhana, pekerja keras, dan memiliki rasa gotong royong tinggi, tercermin dari aktifnya keluarga dalam kegiatan komunitas meski berasal dari latar belakang agama yang berbeda. Warga menunjukkan bahwa keberagaman keyakinan bukan penghalang untuk menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan saling mendukung.
Keharmonisan yang terbangun di Desa Buntu memberi contoh nyata bagaimana masyarakat pedesaan dapat hidup berdampingan damai, menghargai perbedaan, dan menjaga solidaritas di tengah keterbatasan ekonomi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara