BANDUNG BARAT – Ketahanan pangan ditegaskan sebagai fondasi utama kedaulatan negara, seiring meningkatnya tekanan global terhadap sektor pangan. Pemerintah menilai penguatan produksi dalam negeri dan pengurangan ketergantungan impor menjadi langkah strategis menjaga stabilitas nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Stadium General Pendidikan Siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Pasis Sesko AU) Angkatan ke-64 Tahun Pendidikan (TP) 2026 di Lembang.
“Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, ketergantungan terhadap impor pangan menjadi titik lemah suatu negara, terutama dalam situasi krisis global. Ketika negara produsen membatasi ekspor, negara pengimpor akan menghadapi dampak langsung berupa kelangkaan dan lonjakan harga.
Pemerintah, lanjutnya, kini mendorong peningkatan produksi dalam negeri, pengendalian impor, serta penguatan cadangan pangan nasional sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Ini bukan hanya ekonomi, ini soal kedaulatan. Pangan adalah bagian dari sistem pertahanan negara,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 4,3 juta ton dan ditargetkan meningkat menjadi 4,5 juta ton dalam waktu dekat. Peningkatan ini disebut sebagai hasil dari kebijakan yang konsisten dalam mendorong produktivitas sektor pertanian.
Selain itu, ia menilai keberhasilan tersebut mulai mengubah posisi Indonesia di tingkat global, dari negara importir menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dalam sektor pangan.
“Yang membedakan kita adalah keberanian mengambil keputusan dan kecepatan bertindak,” kata Amran.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian energi sebagai bagian dari ketahanan nasional. Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) terbesar dunia dinilai memiliki keunggulan strategis dalam penguatan industri hilir.
“Kalau pangan dan energi kita kuat, tidak ada negara yang bisa menekan kita,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan, program berbasis desa disebut turut berperan dalam memperkuat ekonomi nasional. Penguatan koperasi dan distribusi dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas harga.
“Kalau desa bergerak, ekonomi tumbuh, negara akan kokoh,” ujarnya.
Ia optimistis, dengan kolaborasi lintas sektor dan konsistensi kebijakan, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai kekuatan global baru melalui ketahanan pangan yang solid. “Ketahanan pangan adalah benteng utama. Kalau ini kuat, Indonesia tidak hanya aman, tapi juga berdaulat penuh,” pungkasnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara