BULELENG – Penguatan ekonomi inklusif menjadi salah satu fokus pengembangan Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Sebanyak 200 warga mengikuti lokakarya desain produk untuk meningkatkan daya saing usaha lokal, mulai dari pembentukan merek, perbaikan kemasan, hingga penguatan identitas produk.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (05/11/2026) tersebut menjadi bagian dari aktivasi Desa Kreatif oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI). Program ini menyasar masyarakat yang telah memiliki produk atau jasa, tetapi masih menghadapi kendala dalam pengembangan usaha dan pemasaran.
Perbekel Desa Bengkala I Made Astika mengatakan, sebagian besar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desanya merupakan penyandang disabilitas. Mereka terlibat dalam kegiatan produktif, termasuk mengembangkan kerajinan dan berbagai produk pangan lokal.
Menurut Astika, Bengkala memiliki sejumlah produk unggulan yang menjadi identitas desa. Produk tersebut antara lain inke, jamu mente, kacang kapri, kacang mutiara, jamu kunyit, serta tenun endek Bengkala.
Namun, potensi tersebut masih memerlukan penguatan dari sisi identitas dan pemasaran. Salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha adalah penggunaan kemasan sederhana dan belum adanya merek pada sejumlah produk, termasuk kacang mente.
Selama ini, pemasaran produk UMKM Bengkala masih mengandalkan pasar lokal dan promosi dari mulut ke mulut. Pemerintah desa juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk masyarakat kepada khalayak yang lebih luas.
“Harapan kami, masyarakat semakin berdaya dan pemasaran produk yang mereka hasilkan bisa lebih luas. Dengan begitu, omzet pelaku UMKM juga meningkat,” katanya.
Astika menjelaskan, lokakarya tersebut diikuti 200 warga yang dibagi menjadi dua sesi. Masing-masing sesi melibatkan 100 peserta yang ditempatkan di dua lokasi dengan kapasitas 50 orang per lokasi.
Pengembangan ekonomi desa juga diarahkan untuk menjaga keberlanjutan keterampilan produksi, terutama pada sektor tenun endek. Pemerintah desa menyiapkan regenerasi pelaku UMKM melalui pendampingan dan pelatihan bagi generasi penerus.
Dukungan terhadap keberlanjutan kerajinan tenun turut diberikan Dinas Koperasi, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Buleleng melalui bantuan dua alat tenun bagi komunitas penenun tuli-wicara di Bengkala.
Kepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Arsitektur dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif Trio Dewangga mengatakan, Bengkala dipilih berdasarkan pemetaan potensi sejumlah desa di Bali. Desa tersebut dinilai memiliki komunitas usaha yang telah terbentuk serta kesiapan masyarakat untuk mengikuti pendampingan.
Ia menilai, penguatan produk lokal perlu dilakukan melalui identitas dan strategi pemasaran yang tepat. Selama ini, masih banyak pelaku usaha yang memasarkan produk tanpa merek, cerita produk, maupun kemasan yang mampu meningkatkan nilai jual.
“Selama ini banyak masyarakat menjual produk atau jasa tanpa memiliki cerita produk, pengemasan yang baik, maupun strategi bisnis. Melalui workshop ini, kami berharap mereka mendapat pengetahuan untuk menjual produk dan jasa dengan nilai yang lebih tinggi,” ujarnya.
Trio menjelaskan, penguatan desain tidak hanya berkaitan dengan tampilan produk, tetapi juga mencakup pembentukan identitas melalui merek, label, kemasan, dan cerita mengenai keunggulan produk.
Pendampingan idealnya dilakukan melalui dua kali pertemuan. Pertemuan pertama difokuskan pada penguatan teori dan penggalian cerita produk bersama narasumber. Pertemuan berikutnya diarahkan pada praktik pembuatan kemasan, label, serta penyusunan cerita produk.
Dalam kegiatan tersebut, akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Ni Luh Desi In Diana Sari menyampaikan materi optimalisasi desain dan identitas visual untuk memperkuat daya saing ekonomi kreatif Desa Bengkala.
Sebagaimana diberitakan NusaBali, kegiatan yang berlangsung Kamis (05/11/2026) itu diarahkan untuk membantu masyarakat mengembangkan produk dan jasa dengan nilai jual lebih tinggi.
Penguatan identitas produk, peningkatan keterampilan pemasaran, serta regenerasi perajin diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha masyarakat Bengkala. Dengan demikian, potensi ekonomi kreatif desa dapat berkembang melalui keterlibatan warga, termasuk penyandang disabilitas, dalam kegiatan produktif. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara