Kolaborasi ITS, Kementerian Transmigrasi, dan warga Desa Dafala menggabungkan revitalisasi jaringan air bersih, bantuan 59 bak penampung, serta penguatan aturan adat untuk melindungi mata air Sanabibi.
BELU – Sebanyak 59 bak penampung air diserahkan kepada warga Desa Dafala, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendukung kebutuhan air bersih rumah tangga sekaligus melengkapi revitalisasi jaringan distribusi yang sebelumnya mengalami kebocoran dan penurunan debit. Upaya penyediaan sarana tersebut disertai penguatan aturan adat agar sumber mata air di Hutan Adat Sanabibi tetap terlindungi.
Penyerahan bak penampung air dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 24 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Kementerian Transmigrasi (Kementrans) dalam rangkaian kegiatan bersama masyarakat Desa Dafala pada 24 Oktober 2026. Kegiatan di kawasan transmigrasi Tasifeto Mandeu itu juga diisi ritual adat, pembersihan mata air, penanaman pohon, serta memasak dan makan bersama.
Bagi masyarakat setempat, perlindungan mata air tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyangkut nilai budaya dan penghormatan terhadap leluhur. Karena itu, ritual adat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat komitmen warga dalam menjaga kawasan sumber air.
Salah satu warga yang terlibat, Willi Brodus, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menegaskan aturan adat mengenai perlindungan mata air.
“Ini sebagai rasa syukur kami kepada leluhur. Dengan kegiatan ini, kami juga mengeluarkan larangan adat untuk menjaga kawasan ini yang sudah kami perbaiki bersama adik-adik Patriot (TEP),” ungkap Willi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual adat, kemudian dilanjutkan dengan pembersihan kawasan mata air dari sampah dan material organik yang menumpuk. Warga bersama tim juga menanam pohon sebelum menutup kegiatan dengan memasak dan makan bersama.
Sebelum kegiatan tersebut berlangsung, TEP 24 ITS bersama masyarakat telah merevitalisasi jaringan air bersih yang mengalami kebocoran dan penurunan debit aliran. Pekerjaan mencakup pembenahan kawasan mata air dan bangunan penangkap air (broncapt), perbaikan jaringan pipa high-density polyethylene (HDPE) sepanjang sekitar tiga kilometer, serta penanganan sejumlah titik kebocoran.
Tim juga memasang penyangga pipa pada area penyeberangan sungai untuk membantu melindungi jaringan dari gangguan kondisi medan dan lingkungan. Perbaikan lainnya meliputi kran hidran umum dan penyediaan 59 bak penampung air bagi rumah tangga penerima manfaat.
Ketua TEP 24 ITS, Warmadewanthi, menilai keterlibatan masyarakat dan penghormatan terhadap tradisi setempat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur dasar.
“Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, serta pengetahuan lokal masyarakat penerima manfaat,” ungkap Warmadewanthi.
Menurutnya, nilai penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, dan kepatuhan terhadap kesepakatan adat dapat menjadi modal sosial untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
Keberlanjutan jaringan air bersih di Desa Dafala selanjutnya membutuhkan pemeliharaan rutin, pemantauan kebocoran, serta perlindungan kawasan mata air. Perbaikan infrastruktur dan penyediaan bak penampung diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kepatuhan warga terhadap aturan adat sehingga manfaat layanan air bersih dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kolaborasi ITS, Kementrans, dan masyarakat tersebut juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan keenam tentang air bersih dan sanitasi layak, tujuan ke-15 mengenai ekosistem daratan, serta tujuan ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat diharapkan dapat menjaga sumber air Sanabibi sebagai penopang kebutuhan hidup generasi sekarang dan mendatang. []
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara