Disdikbud Kutim mendorong dokumentasi sejarah Dayak Basap dan kelompok suku lainnya untuk memperkaya koleksi museum sekaligus menyediakan bahan pembelajaran sejarah lokal bagi generasi muda.
ADVERTORIAL – Sejarah masyarakat Dayak Basap berpeluang didokumentasikan dalam bentuk buku sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Gagasan tersebut mendapat perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim yang mendorong penulisan sejarah berbagai kelompok suku agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang melalui koleksi museum dan bahan pembelajaran di sekolah.
Usulan penyusunan buku sejarah Dayak Basap mengemuka dalam Seminar Akhir Kajian Penulisan Sejarah Swakelola Tipe II yang berlangsung di Ruang Rapat Tempudau, Kantor Bupati Kutim, Kamis (29/10/2026). Kegiatan yang melibatkan tim pengkaji dari Universitas Mulawarman (Unmul) tersebut juga membahas penyempurnaan tiga buku sejarah daerah yang tengah disiapkan untuk diterbitkan.
Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, memandang dokumentasi sejarah sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya masyarakat. Menurutnya, sejarah berbagai kelompok suku perlu dihimpun secara tertulis agar pengetahuan mengenai asal-usul, perjalanan kehidupan, dan warisan kebudayaan mereka dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Upaya tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkaya koleksi museum, tetapi juga memperluas sumber pembelajaran sejarah lokal bagi peserta didik. Dengan demikian, sekolah diharapkan memiliki bahan bacaan yang memperkenalkan keragaman budaya masyarakat pesisir maupun pedalaman Kutim.
“Kita buatkan bukunya sebagai koleksi museum dan juga koleksi di sekolah-sekolah,” katanya.
Selain Dayak Basap, Mulyono mendorong kelompok suku lainnya untuk memperoleh kesempatan mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan masing-masing. Gagasan itu diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas penghimpunan pengetahuan sejarah lokal yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Namun, pengembangan dokumentasi sejarah tersebut memerlukan ketelitian dalam pengumpulan dan penyajian informasi. Mulyono mengingatkan bahwa penulisan sejarah tidak cukup hanya menghimpun cerita dan peristiwa masa lalu, tetapi juga harus memperhatikan ketepatan identitas tokoh, nama tempat, gelar, serta jabatan yang tercantum dalam naskah.
“Nama-nama tokoh, nama-nama tempat ini kalau bisa dicek lagi, jangan salah,” tegas Mulyono.
Ia meminta tim penyusun melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap naskah, bukan hanya memperbaiki materi presentasi. Langkah itu dinilai penting untuk mencegah kesalahan yang sama muncul kembali ketika informasi sejarah digunakan sebagai referensi atau disalin ke dokumen lainnya.
“Jangan sampai hal semacam ini terulang ke depan. Perhatikan betul-betul,” ujarnya.
Mulyono juga membuka kesempatan bagi tim penyusun untuk menggelar pembahasan internal lanjutan meskipun seminar akhir telah dilaksanakan. Pemeriksaan kembali diperlukan agar tiga buku yang sedang disiapkan memiliki ketepatan informasi sebelum diterbitkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dalam proses penyusunan buku tersebut, Disdikbud Kutim melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta berbagai pihak yang memiliki pengetahuan mengenai sejarah daerah. Mulyono mengapresiasi kontribusi mereka dalam mendukung pengembangan dokumentasi kebudayaan.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat diharapkan dapat memperkaya informasi sekaligus memperkuat ketelitian dalam penyusunan naskah, terutama ketika penulisan menyangkut sejarah dan identitas kelompok masyarakat tertentu.
Melalui penyempurnaan tiga buku sejarah yang sedang disusun serta dorongan pendokumentasian sejarah Dayak Basap dan kelompok suku lainnya, Disdikbud Kutim berharap upaya pelestarian kebudayaan dapat terus berkembang. Dokumentasi sejarah diharapkan tidak hanya tersimpan sebagai arsip museum, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi mendatang. []
Penulis: Hariyadi | Penyunting: Agus Riyanto
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara