Akses jalan sepanjang sekitar 7,4 kilometer yang melintasi rawa membuat warga Desa Renah Kasah menghadapi hambatan dalam menjual hasil pertanian dan mengakses pendidikan, terutama ketika musim hujan datang.
KERINCI – Warga Desa Renah Kasah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, masih menghadapi keterbatasan akses keluar-masuk desa akibat jalan sepanjang sekitar 7,4 kilometer yang melintasi kawasan rawa. Kondisi tersebut berdampak pada aktivitas pertanian dan pendidikan warga karena akses dapat berubah menjadi genangan air saat musim hujan.
Jalur tersebut menjadi satu-satunya akses masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian maupun bepergian ke luar desa. Pada bagian rawa yang dalam, warga memasang dua jalur papan agar kendaraan masih dapat melintas untuk membawa hasil panen.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kerinci Maya Novefri Handayani menyebut terdapat sekitar 7,411 kilometer jalan yang perlu dibangun menuju Desa Renah Kasah. Namun, pembangunan akses tersebut masih membutuhkan izin karena sebagian besar jalurnya berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
“Hampir sebagian besar akses jalan itu masuk kawasan TNKS, kita perlu izin dulu,” kata Maya sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis, (24/09/2026).
Kondisi jalan menjadi persoalan terutama ketika musim hujan. Genangan di kawasan rawa disebut dapat mencapai hampir dua meter, di luar kedalaman rawa, sehingga masyarakat harus menggunakan sampan sebagai alternatif transportasi untuk keluar-masuk desa.
Keadaan tersebut juga berpengaruh terhadap hasil pertanian warga. Saat akses terendam, hasil panen seperti kentang dan bawang dapat tertahan selama berhari-hari karena tidak bisa dibawa untuk dijual ke luar desa.
“Kalau sudah banjir, bisa sampai se leher airnya, itu kentang, bawang pernah tertahan dak bisa dijual,” kata Erman.
Persoalan akses tidak hanya berkaitan dengan distribusi hasil pertanian. Desa Renah Kasah yang dihuni 152 kepala keluarga (KK) hanya memiliki satu Sekolah Dasar (SD), sedangkan anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya harus pergi ke luar desa. Kondisi jalan yang terisolasi saat banjir turut menyulitkan mobilitas mereka.
“Jalan ini sangat penting bagi kami, akses utama kami. Sudah lama sekali kami merindukan jalan ini untuk dibangun,” kata Erman.
Di tengah keterbatasan akses tersebut, masyarakat Desa Renah Kasah tetap menjalankan tradisi yang berkaitan erat dengan kehidupan pertanian. Salah satunya melalui rangkaian Kenduri Arah dan Kenduri Sudah Tuai yang digelar setelah masa panen padi.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus penghormatan kepada leluhur. Dalam Kenduri Arah, masyarakat berkumpul di rumah pemangku adat dan melaksanakan rangkaian sesaji sebelum makan bersama. Tradisi kemudian dilanjutkan dengan Kenduri Sudah Tuai pada hari berikutnya.
Kegiatan adat itu juga memperlihatkan kuatnya keterikatan masyarakat dengan kehidupan pertanian. Sebelumnya, ketika padi memasuki masa panen, warga menjalankan tradisi Ngayun Luci yang dipercaya bertujuan agar tanaman padi terhindar dari hama dan memperoleh hasil panen melimpah.
Pada musim kemarau panjang, warga masih dapat membawa hasil pertanian menggunakan sepeda motor maupun mobil kabin ganda yang mampu melewati medan sulit. Namun, kondisi tersebut berubah ketika musim hujan tiba dan rawa yang menjadi akses utama desa dipenuhi air.
Dengan kondisi itu, pembangunan akses jalan menjadi kebutuhan yang terus diharapkan masyarakat karena jalur tersebut berkaitan langsung dengan mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, dan akses pendidikan. Sementara itu, rencana pembangunan masih bergantung pada proses perizinan karena sebagian jalur berada di kawasan TNKS. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara