Tak Hanya Beternak, Perempuan Desa Yosorejo Tekuni Usaha Jahit

PEKALONGAN – Aktivitas menjahit di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, menjadi salah satu pilihan perempuan untuk menambah pendapatan keluarga di tengah kehidupan masyarakat yang masih bertumpu pada pertanian dan peternakan. Salah satunya Siti, 37, yang membagi waktunya antara merawat ternak, mengurus keluarga, dan menerima pekerjaan jahit dari rumah.

Pekerjaan tersebut memberikan sumber penghasilan yang dapat diterima secara rutin. Siti memperoleh upah menjahit setiap minggu, sedangkan pendapatan dari menggaduh ternak baru diterima pada waktu tertentu dalam setahun.

Siti menjalani aktivitas menjahit di rumah Nur, 38, yang bersama suaminya, Wasyuri, 47, mengembangkan jasa jahit di Dusun Dranan. Usaha tersebut menerima bahan kain yang telah dipotong dari pemilik modal di kota, termasuk dari luar pulau, untuk kemudian dijahit menjadi produk celana.

Nur kini mempekerjakan sekitar 35 penjahit di Dranan. Sebagian bekerja dari rumah masing-masing, sedangkan lainnya mengerjakan pesanan di rumah Nur. Mayoritas penjahit merupakan perempuan yang berasal dari lingkungan sekitar, kerabat, maupun keluarga.

Kegiatan menjahit itu berkembang di tengah kehidupan masyarakat Yosorejo yang sebagian besar menggantungkan penghidupan pada pertanian subsisten dan peternakan. Wilayah Dranan berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.268 meter sehingga akses menuju kawasan tersebut relatif sulit dari wilayah pesisir dan perkotaan.

Siti sendiri tidak hanya mengandalkan pekerjaan menjahit. Sejak kecil, ia terbiasa membantu ibunya mencari rumput untuk pakan ternak. Setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP), Siti sempat bekerja di kota sebagai pekerja rumah tangga (PRT) sebelum kembali ke desa dan menikah.

Rutinitas Siti dimulai sejak pagi. Setelah bangun dan melaksanakan salat Subuh, ia menjemur pakaian, memasak sarapan, serta mengurus kebutuhan keluarganya. Setelah itu, ia menuju kandang untuk memastikan lima kambing dan empat sapi yang dirawatnya memperoleh pakan.

Salah satu sapi yang dirawat Siti memiliki bobot sekitar 700 kilogram. Sapi tersebut merupakan milik warga desa lain yang dititipkan untuk digaduh oleh Siti dan suaminya.

Kebutuhan pakan ternak membuat Siti harus mencari rumput secara langsung. Dengan sepatu bot, selendang, tali, dan arit, ia berjalan menuju bukit di sekitar desa untuk mendapatkan rumput segar.

“Kalau pagi hujan, ya tetap berangkat, pakai plastik sama caping. Kalau tidak dicarikan rumput, bagaimana sapinya? Hari ini untungnya terang,” ucap Siti, sebagaimana diberitakan Tirto, Selasa, (15/09/2026).

Perjalanan menuju lokasi rumput membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Setelah sampai, Siti menebas rumput gajah selama kurang lebih setengah jam sebelum mengikat dan mengangkutnya kembali ke desa.

Beban rumput tersebut kemudian dibawa menggunakan selendang yang disangga di tubuhnya. Setelah tiba di kandang, rumput disimpan sebagai pakan untuk ternak dan sebagian menjadi persediaan untuk hari berikutnya.

Usai menyelesaikan pekerjaan di kandang, Siti kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan menyiapkan sarapan bersama kedua anaknya, Alisia, 16, dan Imron, 12. Setelah kebutuhan rumah tangga selesai, ia beralih ke pekerjaan menjahit.

“Buat tambah-tambah penghasilan, lumayan buat jajan anak juga,” tutur Siti tentang keputusannya menjahit.

Siti mulai menekuni pekerjaan tersebut sejak bulan puasa sebelum laporan ini diterbitkan. Meski masih tergolong baru belajar, ia mampu menghasilkan jahitan yang dinilai rapi. Pekerjaan itu dilakukan menggunakan mesin jahit untuk mengerjakan kain celana, termasuk celana seragam sekolah dasar (SD).

Menurut Nur, kecepatan kerja Siti memang masih lebih lambat dibandingkan penjahit yang telah berpengalaman. Namun, hasil jahitannya tetap rapi sehingga ia terus mendapat pekerjaan.

Pola kerja tersebut membuat Siti menjalani lebih dari satu aktivitas ekonomi dalam sehari. Setelah menjahit hingga siang atau menjelang sore, ia pulang untuk makan dan beristirahat sebelum kembali menjahit pada malam hari.

Bagi Siti, pekerjaan menjahit melengkapi pendapatan yang sebelumnya bersumber dari pekerjaan suaminya sebagai pekerja proyek pengaspalan dan usaha menggaduh ternak. Pola tersebut memperlihatkan bagaimana pekerjaan rumahan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga di kawasan perdesaan.

Berkembangnya jasa jahit di Dusun Dranan juga membuka kesempatan kerja bagi perempuan setempat. Dengan sistem pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah, aktivitas tersebut memungkinkan para penjahit tetap menjalankan berbagai tanggung jawab keluarga sekaligus memperoleh penghasilan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Dedikasi Dewi Selama 15 Tahun Dampingi Nasabah Mikro BRI

PDF đź“„LAMPUNG SELATAN – Pendampingan langsung kepada pelaku usaha mikro menjadi bagian dari upaya Dewi …

Pemerintah Siapkan RBI Masuk Perencanaan Pembangunan Daerah 2027

PDF đź“„JAKARTA – Program Ruang Bersama Indonesia (RBI) diarahkan menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah …

Ekonom Minta Anggaran Pendidikan dan UMKM Lebih Diperkuat

PDF đź“„JAKARTA – Ruang penataan belanja negara menjadi salah satu perhatian setelah Suahasil Nazara resmi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *