JAKARTA – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mendorong perubahan arah pengembangan desa wisata dengan menempatkan desa sebagai penggerak utama industri pariwisata. Strategi tersebut dinilai menjadi salah satu langkah memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
Penasihat Menteri Desa, Zainuddin Maliki, mengatakan paradigma pengembangan wisata kini bergeser dari sekadar pariwisata di desa menjadi pariwisata yang digerakkan oleh desa. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Setidaknya saat ini 6200 desa wisata bisa menyumbang hingga 4,4 juta dari seluruh tenaga kerja yang dihasilkan dunia pariwisata nasional di angka 25 juta tenaga kerja,” kata Zainuddin dalam seminar internasional yang diselenggarakan Program Doktor Universitas Sahid Jakarta, Jumat (24/7/2026), sebagaimana diberitakan Jpnn, Sabtu (25/07/2026).
Dalam seminar bertema Prospek Industri Pariwisata di Tengah Tantangan Ekonomi tersebut, Zainuddin menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata menjadi salah satu prioritas dalam 12 agenda aksi Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT). Program tersebut mendukung Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, paradigma baru tersebut membuat masyarakat desa tidak hanya membangun destinasi wisata, tetapi juga memanfaatkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi lokal yang mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan warga.
“Dengan gerakan itu dapat dipastikan pembangunan pariwisata tidak hanya dirasakan langsung oleh masyarakat desa tetapi juga tumbuh menjadi pilar pembangunan ekonomi nasional secara inklusif,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia tidak dapat bergantung pada destinasi wisata berskala besar dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Potensi desa yang meliputi kekayaan alam, budaya, kuliner, kerajinan, dan kearifan lokal perlu dikelola secara profesional agar menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis masyarakat.
Zainuddin juga berharap Program Doktor Universitas Sahid bersama perguruan tinggi lainnya dapat memperkuat kajian akademik dan kebijakan untuk merumuskan strategi pengembangan desa wisata yang adaptif terhadap dinamika ekonomi global. Seminar tersebut turut dihadiri perwakilan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), pelaku industri pariwisata, akademisi, serta perwakilan Kedutaan Australia. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara