NUSA TENGGARA TIMUR – Sebanyak 29 dari 57 desa wisata di Pulau Flores yang telah diverifikasi kembali membuka kunjungan wisatawan setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada 15 Agustus 2026. Data tersebut menunjukkan pemulihan pariwisata mulai berlangsung, meski 28 desa wisata lainnya masih ditutup sementara untuk memastikan keamanan pengunjung.
Kondisi itu terungkap dari pemantauan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terhadap 87 desa wisata yang tercatat dalam Jejaring Desa Wisata (Jadesta). Hingga Rabu (26/8), sebanyak 57 desa wisata telah diverifikasi, dengan sebagian sudah kembali menerima wisatawan dan sebagian lainnya masih menunggu perkembangan kondisi lapangan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama (Dirut) BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan pemulihan destinasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat keamanan setiap wilayah.
“Sementara sebagian destinasi di wilayah terdampak masih ditutup sementara atau dalam proses verifikasi kondisi,” katanya, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat, (28/08/2026).
Di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), aktivitas pariwisata di Taman Nasional Komodo tetap berjalan normal, termasuk pelayaran menuju kawasan tersebut. Gua Rangko juga masih dibuka dengan aktivitas wisata seperti biasa.
Sementara itu, kegiatan di Pelabuhan Waterfront/KP-3 Labuan Bajo dilaporkan berjalan aman dan terkendali. Operasional pelabuhan tetap berlangsung dengan petugas yang disiagakan di lapangan.
“Kemudian aktivitas di Pelabuhan Waterfront/KP-3 Labuan Bajo juga terpantau berjalan dengan aman dan terkendali. Layanan pelabuhan tetap berlangsung dengan para petugas siaga dan berjaga-jaga di lapangan,” tambah dia.
Dari sisi konektivitas, seluruh pelabuhan yang tercatat masih melayani kapal dan penumpang dengan mengutamakan keselamatan. Layanan angkutan perintis juga tetap berjalan, sedangkan sejumlah ruas utama Trans Flores telah kembali dapat dilalui.
Jalur Labuan Bajo–Ende–Maumere serta sejumlah ruas Ruteng–Reo–Kedindi dan Ruteng–Iteng telah terbuka. Namun, pemulihan jaringan telekomunikasi belum merata, terutama di Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Nagekeo.
Di tengah pemulihan tersebut, kondisi destinasi wisata tidak seragam. Sejumlah desa wisata di Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, dan Kabupaten Flores Timur telah membuka kembali kunjungan.
Di Mabar, desa wisata yang telah membuka kunjungan antara lain Batu Cermin, Komodo, Liang Ndara, Papagarang, Pasir Panjang, Siru, Tondong Belang, dan Wae Lolos. Pembukaan kembali destinasi tersebut menjadi bagian dari pemulihan aktivitas wisata di kawasan Flores setelah gempa.
Namun, beberapa destinasi masih ditutup sementara untuk kepentingan keselamatan. Di Kabupaten Manggarai, Wae Rebo, Todo, dan Liang Bua masih ditutup, sedangkan Kampung Adat Ruteng Pu’u mengalami kerusakan sedang.
Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Nagekeo juga masih menerapkan penutupan sementara pada sejumlah aktivitas wisata. Di Kabupaten Sikka, Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Pulau Teluk Maumere masih ditutup, sementara Desa Wisata Nita telah kembali beroperasi normal.
BPOLBF menyatakan data mengenai status destinasi terus diperbarui bersama pemerintah daerah. Perbedaan kondisi tersebut membuat wisatawan perlu memperhatikan informasi terbaru sebelum mengunjungi destinasi tertentu.
“Namun data tersebut masih terus dimutakhirkan bersama pemerintah daerah sesuai perkembangan kondisi di lapangan,” tambah dia.
Andhy menegaskan pemulihan aktivitas pariwisata akan terus dilakukan secara bertahap dengan menempatkan keselamatan wisatawan, masyarakat, dan pelaku pariwisata sebagai prioritas.
“Pemulihan aktivitas wisata di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif. Namun, wisatawan tetap perlu melihat kondisi masing-masing destinasi karena situasinya berbeda-beda,” katanya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara