JEPARA – Tradisi Sedekah Bumi di Desa Kaliaman, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara kembali menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus penguatan kebersamaan warga. Puncak perayaan tahun 2026 ditandai dengan pagelaran wayang kulit yang mengangkat lakon Wahyu Katentreman, menghadirkan pesan moral tentang pentingnya ketenangan batin, kepemimpinan bijaksana, dan harmoni dalam kehidupan masyarakat.
Kegiatan yang digelar di Balai Desa Kaliaman pada Jumat (5/6/2026) malam tersebut menjadi penutup rangkaian acara Sedekah Bumi yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Acara dihadiri Kepala Desa (Kades) Kaliaman, Masheru Hepnanto Rohman, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), ketua rukun tetangga (RT), ketua rukun warga (RW), tokoh masyarakat, serta ratusan warga.
Tradisi tahunan ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus upaya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Berbagai kegiatan digelar sebelum puncak acara, mulai dari doa bersama, kirab budaya, tradisi manganan di sejumlah makam leluhur desa, hingga pertunjukan seni tradisional.
Pagelaran wayang kulit menghadirkan dalang Ki Sasmito Cokro bersama empat waranggana, yakni Sumiyati dari Kudus, Novia dari Solo, Seril dari Jepara, dan Esty dari Yogyakarta. Lakon Wahyu Katentreman dipilih karena mengandung pesan filosofis yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Dalang Ki Sasmito Cokro menjelaskan bahwa kisah tersebut menggambarkan perjalanan spiritual seorang ksatria dalam mencari ketenangan dan kedamaian sejati melalui berbagai ujian kehidupan.
“Wahyu merupakan simbol dari pengetahuan ilahi atau kearifan yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang memiliki hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Lakon ini menggambarkan pencarian spiritual oleh para ksatria atau raja untuk mendapatkan wahyu demi menciptakan kedamaian di kerajaannya,” kata Ki Sasmito, sebagaimana diwartakan Liputan7, Sabtu (06/06/2026).
Menurutnya, cerita tersebut mengajarkan bahwa kedamaian tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan melalui pengendalian diri, keikhlasan, dan kemampuan menghadapi berbagai godaan kehidupan. Pesan itu disampaikan melalui perjalanan tokoh utama yang harus melawan berbagai kekuatan jahat sebelum memperoleh wahyu yang dicari.
Selain menjadi hiburan rakyat, pertunjukan wayang kulit juga dimanfaatkan sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda. Melalui Sanggar Seni Karawitan Cokro Laras, Ki Sasmito aktif mengenalkan seni tradisional kepada anak-anak dan remaja agar warisan budaya Jawa tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Pelaksanaan Sedekah Bumi di Kaliaman menunjukkan bahwa tradisi desa tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya, mempererat hubungan sosial masyarakat, serta menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara