REMBANG – Desa Wisata Sendangasri di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata berbasis budaya dengan mengembangkan paket edukasi seni, kerajinan tradisional, hingga kuliner lokal yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama ekonomi kreatif desa.
Desa yang dikenal dengan akronim Dessen tersebut mengusung konsep wisata berbasis pelestarian budaya dan pemberdayaan warga. Berbeda dengan banyak destinasi yang mengandalkan daya tarik visual modern, Dessen menitikberatkan pengembangan wisata pada kekayaan seni tradisional yang telah tumbuh dan diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Desa Wisata Sendangasri, Rina Anggraini, menjelaskan bahwa pengembangan Dessen telah dirintis sejak 2020 dan memperoleh legalitas resmi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang pada 2022.
”Sejak awal, konsep yang kami unggulkan memang bertumpu pada kekuatan lokal, yaitu Desa Wisata Seni dan Budaya.”
“Alhamdulillah, masyarakat sadar betul bahwa potensi ini bernilai tinggi.”
“Kami ingin memosisikan warga bukan lagi sebagai objek pariwisata, melainkan subjek atau pelaku utama yang menggerakkan ekosistem ini,” kata dia, sebagaimana diberitakan Suara Merdeka, Selasa (02/06/2026).
Sebagai penunjang aktivitas budaya, pemerintah desa bersama pengelola membangun sanggar budaya yang menjadi pusat pelatihan dan kreativitas masyarakat. Dessen juga mengembangkan tiga pilar edukasi seni yang dibimbing langsung oleh seniman lokal, yakni pelatihan tari, karawitan, dan pewayangan.
Program tersebut melahirkan berbagai paket wisata edukatif, mulai dari pengenalan tokoh wayang, pertunjukan Wayang Alang-Alang khas Dessen, ketoprak, wayang orang, hingga wayang kulit purwa. Aktivitas tersebut sekaligus memperkuat keberadaan generasi muda yang aktif menjadi dalang, sinden, maupun pemain gamelan.
Tidak hanya mengandalkan sektor seni pertunjukan, Dessen juga mengembangkan wisata kerajinan berbasis potensi lokal. Warga memproduksi batik tulis khas Lasem, anyaman bambu, kerajinan tali, hingga gerabah berbahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA).
“Kami bekerjasama dengan PLN Nusantara Power UP Rembang memanfaatkan limbah abu pembakaran dari PLTU.”
“Kemudian dikombinasikan dengan bahan tertentu hingga tercipta kerajinan gerabah berbentuk pot bunga kecil bernilai ekonomis. Wisatawan bisa belajar langsung proses pembuatannya di sini,” jelas Rina.
Penguatan ekonomi desa turut didukung Kelompok Wanita Tani (KWT) yang memproduksi berbagai kuliner tradisional seperti dumbeg, egg roll, dan kerupuk. Produk tersebut dipasarkan melalui Angkringan Dessen yang beroperasi saat kunjungan wisata maupun kegiatan budaya berlangsung.
Daya tarik wisata budaya Dessen juga diperkuat melalui sejumlah agenda tahunan, seperti Gebyar Seni dan Kirab Ancak Sedekah Bumi. Dalam tradisi tersebut, masyarakat mengarak ancak berbentuk tokoh wayang, hewan, maupun karakter kreatif lainnya sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.
Konsistensi mengembangkan budaya dan ekonomi kreatif membawa Dessen meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya Juara I Desa Wisata Jawa Tengah 2025, Juara Harapan II Desa Wisata Berbasis Budaya pada Wonderful Indonesia Awards 2025, serta Penghargaan Emas dalam Indonesian Social Responsibility Awards (ISRA) 2023 melalui kolaborasi dengan PT PLN Nusantara Power UP Rembang.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat desa, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal sebagai daya tarik wisata berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara