GIANYAR – Program Desa Energi Berdikari (DEB) Keliki di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, menunjukkan bahwa pemanfaatan energi bersih mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat pengelolaan lingkungan di tingkat desa. Melalui dukungan energi surya untuk irigasi dan pengolahan sampah, hasil panen padi organik masyarakat meningkat dari rata-rata 5–5,5 ton menjadi 8,7 ton per hektare.
Program yang dikembangkan oleh Pertamina tersebut mengintegrasikan ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat desa. Sistem ini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung operasional pengolahan sampah serta kebutuhan irigasi pertanian.
Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Yowana Bakti Keliki sekaligus penggerak lokal program, I Wayan Sumada, mengatakan dukungan fasilitas dan pendampingan yang diberikan telah membawa perubahan signifikan bagi masyarakat desa.
“Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu – Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah,” ujarnya sebagaimana diberitakan Tvonenews, Senin (01/06/2026).
Menurutnya, keberadaan TPS3R yang didukung PLTS berkapasitas 10,5 kilowatt peak (kWp) mampu membantu pengelolaan sampah desa secara berkelanjutan. Fasilitas tersebut menghasilkan energi surya sekitar 14.256 kilowatt hour (kWh) per tahun, menghemat biaya listrik hingga Rp21 juta setiap tahun, serta menekan emisi gas rumah kaca sekitar 13,7 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2eq) per tahun.
Selain itu, masyarakat juga mengalami peningkatan kesadaran dalam memilah sampah rumah tangga sebelum diserahkan ke lokasi pengolahan.
“Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerjasama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam,” tambahnya.
Di sektor pertanian, PLTS berkapasitas 17,5 kWp dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air tenaga surya yang memasok kebutuhan irigasi selama musim kemarau pada tujuh subak, yakni Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu. Sistem tersebut menghasilkan energi sekitar 84.000 kWh per tahun, mengurangi emisi hingga 23,1 ton CO2eq per tahun, serta menghemat biaya listrik sekitar Rp35 juta setiap tahun.
Keberhasilan pemanfaatan energi bersih tersebut mendapat perhatian jajaran Dewan Komisaris Pertamina saat melakukan kunjungan lapangan pada 28 Mei 2026. Dalam kesempatan itu, mereka meninjau langsung pelaksanaan program dan berdialog dengan masyarakat penerima manfaat.
Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, menilai program tersebut berhasil menghadirkan manfaat lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
“Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan, bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, DEB Keliki telah memberikan manfaat kepada sekitar 1.200 kepala keluarga, membuka peluang kerja bagi sembilan tenaga kerja, serta melibatkan 15 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pemuda desa. Masyarakat juga menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi seperti pupuk organik, ecoenzyme, dan kompos organik.
Perkembangan program tersebut turut menjadikan Keliki sebagai lokasi pembelajaran pengelolaan sampah dan pertanian berbasis energi bersih. Hingga kini sedikitnya 6.000 pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara dan kalangan akademisi, telah berkunjung untuk mempelajari penerapan konsep eco village yang dikembangkan masyarakat setempat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara