JEPARA – Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara (Jepara), kembali membuktikan diri sebagai warisan budaya yang tidak hanya lestari, tetapi juga mampu menarik ribuan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat desa. Ritual tahunan yang menjadi puncak Sedekah Bumi itu digelar meriah pada Senin (25/5/2026) malam.
Tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia sejak 2020 tersebut menyedot perhatian warga lokal maupun pengunjung dari berbagai daerah. Ribuan orang memadati kawasan Desa Tegalsambi sejak sore hingga malam untuk menyaksikan atraksi budaya yang menjadi identitas masyarakat setempat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan arak-arakan obor dari rumah petinggi desa menuju perempatan desa. Sebelum digunakan dalam ritual, obor-obor tersebut terlebih dahulu didoakan oleh tokoh masyarakat, kemudian api utama dinyalakan sebagai simbol dimulainya prosesi Perang Obor.
Penyulutan api dilakukan oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah (Jateng), Taj Yasin, bersama Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Setelah itu, para peserta mulai saling beradu menggunakan obor yang terbuat dari pelepah pisang dan daun kelapa kering, disambut sorak-sorai ribuan penonton.
Petinggi Desa Tegalsambi, Agus Santoso, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan untuk meningkatkan daya tarik wisata budaya.
“Jadi sesuai dengan apa yang dikersake Bapak Bupati, kami mencoba ada beberapa sentuhan-sentuhan untuk membuat Perang Obor ini menjadi lebih menarik. Di antaranya mungkin dari kostum, dari lighting, kemudian ada sinopsis atau sedikit teatrikal yang disuguhkan oleh beberapa pemain,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Beritasatu, Selasa (26/05/2026).
Menurut Agus, sebanyak 400 obor dimainkan oleh sekitar 40 warga asli Desa Tegalsambi. Tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai warisan turun-temurun yang menjadi bagian dari identitas masyarakat desa.
“Festival Perang Obor ini bisa menggerakkan ekonomi kemasyarakatan secara luas. Harapan kami perang obor ini bisa menjadi prioritas dari pariwisata nasional,” katanya.
Ia menjelaskan tradisi tersebut berawal dari kisah perselisihan antara Mbah Geblong dan Mbah Kiai Babadan yang terjadi saat wabah penyakit ternak menyerang desa. Ketika keduanya saling memukul menggunakan obor, hewan ternak yang sakit disebut sembuh, sehingga peristiwa itu kemudian diwariskan sebagai ritual tolak bala.
“Perang obor ini kan puncak dari acara Sedekah Bumi. Setelah beliau bertengkar, hewan yang tadinya sakit itu bahkan bisa sembuh, sehingga akhirnya diwasiatkan supaya momentum ini diperingati sebagai ritual tolak bala,” jelasnya.
Wagub Jateng, Taj Yasin, menilai Perang Obor memiliki potensi besar untuk memperkuat posisi Jepara sebagai destinasi wisata budaya berbasis desa.
“Tegalsambi ini salah satu destinasi wisata desa yang dirintis. Salah satunya yaitu yang diangkat adalah perang obor. Ini bagian dari penarik masyarakat supaya datang ke sini,” ucapnya.
Dukungan terhadap pelestarian tradisi juga datang dari para pelaku budaya setempat. Salah satu pemain senior Perang Obor, Agus Susanto, mengaku telah mengikuti ritual tersebut sejak 1992 sebagai generasi keempat dalam keluarganya.
“Kalau pas main, biasanya kita sudah lupa siapa lawan siapa kawan. Yang penting siapa yang angkat api ya kita pukul. Namun, setelah selesai tidak ada permusuhan,” katanya.
Menurut Agus Susanto, peserta Perang Obor wajib berasal dari warga asli Desa Tegalsambi agar nilai-nilai budaya dan warisan leluhur tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Tradisi ini diharapkan terus berkembang sebagai aset budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat desa di Jepara. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara