BOYOLALI – Temuan benda batu yang diduga merupakan bagian dari struktur candi Buddha kuno di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali (Boyolali), membuka peluang baru dalam pengungkapan jejak sejarah dan peradaban masa lampau di wilayah tersebut. Pemerintah bersama tim ahli kini melakukan pendataan dan kajian lanjutan untuk memastikan status serta nilai sejarah temuan tersebut.
Benda berukuran besar itu ditemukan pada 14 Mei 2026 saat warga membuka akses jalan untuk pembangunan kandang sapi menggunakan alat berat. Penemuan terbaru ini menambah deretan objek purbakala yang sebelumnya telah ditemukan di Desa Nepen dan diduga memiliki keterkaitan dengan situs keagamaan Buddha kuno.
Anggota Tim Ahli Pendaftaran Cagar Budaya Boyolali, Farid Burhanuddin, menjelaskan bahwa alat berat yang digunakan warga sempat mengenai benda keras yang tertanam di dalam tanah saat proses perataan lahan berlangsung.
“Diduga pula berkaitan dengan sejumlah temuan lain yang sebelumnya ditemukan di Desa Nepen,” kata Farid, sebagaimana diwartakan Tempo, Selasa (26/05/2026).
Menurut Farid, objek tersebut memiliki tinggi sekitar 1,25 meter dan diameter sekitar 1,30 meter. Bentuknya menyerupai tabung atau mangkuk tertutup dengan struktur di bagian bawah yang diduga berkaitan dengan prasasti Buddhis. Temuan itu diperkirakan merupakan bagian dari stupa kecil, lapik arca, atau komponen bangunan candi.
Ia menambahkan, dalam radius sekitar 500 meter dari lokasi temuan terbaru, sebelumnya juga ditemukan sejumlah objek lain yang diduga berasal dari struktur bangunan Buddha kuno. Warga setempat pun beberapa kali menemukan lapik batu, fragmen bangunan, serta bagian struktur lain yang mengarah pada keberadaan situs cagar budaya.
Meski demikian, Farid menegaskan diperlukan penelitian lebih mendalam untuk memastikan hubungan antarobjek yang ditemukan. “Apakah satu kesatuan struktur atau bukan,” katanya.
Warga penemu benda tersebut, Sopan, mengaku sengaja menghentikan pekerjaan setelah alat berat menyentuh objek keras yang diduga bersejarah itu. Ia memilih mengangkat benda tersebut secara manual guna menghindari kerusakan.
“Saya mencari tali tambang untuk mengangkat secara manual dan hati-hati,” ujar Sopan.
Menurutnya, proses pemindahan dilakukan menggunakan tali tambang karena khawatir struktur batu retak atau pecah apabila dipindahkan menggunakan alat berat. “Kami angkat pelan-pelan secara manual,” katanya.
Setelah dibersihkan dari tanah yang menempel, Sopan menduga benda tersebut memiliki keterkaitan dengan temuan sebelumnya karena bentuk keduanya tampak saling melengkapi. “Satu memiliki lubang mengarah ke bawah dan satunya mengarah ke atas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali, Sunardi, mengatakan pemerintah daerah masih melakukan pengamanan dan pendataan terhadap seluruh temuan di Desa Nepen. Langkah berikutnya adalah penelitian dan kajian mendalam guna menentukan status serta nilai sejarah benda-benda tersebut.
Sunardi menjelaskan Boyolali telah memiliki regulasi mengenai cagar budaya, namun standar operasional prosedur (SOP) penanganan temuan cagar budaya masih dalam tahap penyusunan. “Ke depan penanganan akan dibuat lebih terarah melalui SOP yang sedang disiapkan,” kata Sunardi.
Dengan penemuan terbaru ini, sedikitnya terdapat tiga objek batu yang diduga berkaitan dengan struktur bangunan kuno di Desa Nepen. Temuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kajian sejarah sekaligus membuka peluang pengembangan situs cagar budaya di wilayah Boyolali. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara