Artefak Tak Lagi Disimpan, Kini Jadi Aset Ekonomi Desa

LOMBOK TENGAH – Upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem di desa mulai digeser ke pendekatan berbasis budaya, dengan mendorong pemanfaatan artefak sebagai penggerak ekonomi lokal sekaligus pelestarian warisan leluhur. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Museum Negeri NTB mengintensifkan edukasi perawatan artefak kepada masyarakat desa agar mampu mengelola potensi budaya secara mandiri.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan, pelestarian benda pusaka tidak hanya berhenti pada aspek kultural, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa. “Pelestarian benda-benda pusaka tidak hanya berhenti pada aspek kultural saja, tetapi juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi lokal masyarakat desa,” ujarnya sebagaimana diberitakan Antara, Sabtu (02/05/2026).

Ia menjelaskan, masih banyak artefak di masyarakat yang belum dirawat dengan baik sehingga berisiko rusak atau hilang. Karena itu, edukasi menjadi langkah awal agar masyarakat mampu melakukan perawatan dasar secara mandiri terhadap benda bersejarah dan budaya yang dimiliki.

Melalui program Kotaku Museumku, Kampungku Museumku, Museum NTB mendorong desa menginventarisasi dan menjaga benda pusaka secara kolektif. Program ini juga diarahkan agar desa memiliki museum sendiri sebagai pusat penyimpanan sekaligus destinasi wisata berbasis budaya.

“Kami mendorong desa memiliki museum yang bisa menyimpan artefak dan pusaka yang ada di masyarakat. Keberadaan museum desa membuat NTB punya wisata alternatif berbasis kebudayaan,” kata Nuralam.

Pada Rabu (29/04/2026), Museum NTB menggelar sosialisasi perawatan artefak di Desa Barabali, Kecamatan (Kec) Batukliang, Kabupaten (Kab) Lombok Tengah. Desa tersebut merupakan salah satu wilayah kategori miskin ekstrem dan menjadi lokasi implementasi Program Desa Berdaya dari Pemprov NTB.

Program Desa Berdaya mencakup 20 tema pengembangan, mulai dari desa wisata, ketahanan pangan, hingga desa sehat, dengan tujuan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Nuralam menambahkan, museum desa tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga dapat menjadi pusat interaksi budaya dan edukasi yang mampu menarik wisatawan. “Artefak dan benda pusaka yang terawat di museum desa dapat dikemas menjadi narasi wisata sejarah,” ucapnya.

Ia menilai, pengembangan museum desa berpotensi memunculkan aktivitas ekonomi turunan seperti jasa pemandu wisata, penjualan kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga produk kreatif berbasis budaya.

Kepala Desa (Kades) Barabali Salbi menyambut positif kegiatan edukasi tersebut. Ia menilai, sosialisasi memberikan pemahaman baru bagi masyarakat dalam mengelola potensi budaya desa secara produktif.

Hal senada disampaikan Camat Batukliang Lalu Sudirman yang menilai masih banyak artefak di masyarakat yang memerlukan perhatian dan pelestarian dari pemerintah daerah.[]

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Masalah Sampah Disasar dari Hulu, Desa Jadi Garda Terdepan

PDF đź“„KABUPATEN BOGOR – Upaya mengatasi persoalan sampah dari level desa mulai diarahkan pada perubahan …

Dari Laut ke Pasar, TELKOTEL Jadi Peluang Usaha Warga

PDF đź“„PAMEKASAN – Upaya pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) …

BMC Gresik, Bukti Desa Bisa Ubah Sampah Jadi Cuan

PDF đź“„GRESIK – Transformasi lahan pembuangan sampah menjadi kawasan ekowisata mangrove di Desa Banyuurip, Kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *