SRAGEN – Ancaman tanah longsor akibat hujan berintensitas tinggi memaksa dua kepala keluarga di Dukuh Banyuurip, Desa Kalikobok, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, membongkar rumah dan mengungsi demi keselamatan. Peristiwa ini terjadi setelah pergerakan tanah terus memburuk sejak pertengahan April 2026.
Bencana tersebut dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Sragen selama sepekan terakhir. Retakan tanah mulai terdeteksi pada Minggu (12/4/2026) sore di sekitar permukiman warga dan semakin melebar seiring hujan yang tidak kunjung reda.
Kondisi mencapai titik kritis pada Rabu (15/4/2026), ketika tanah ambles hingga kedalaman sekitar dua meter, terutama di area belakang rumah warga yang berdekatan dengan kamar mandi. Pergerakan tanah yang terus berlangsung membuat rumah milik Jumirin dan Firiyanto tidak lagi layak dihuni.
Salah satu warga terdampak, Toni Arianto, menjelaskan bahwa retakan awalnya tampak kecil, namun dengan cepat membesar akibat hujan deras. “Awalnya retak kecil, tapi setelah hujan deras, retakannya makin lebar sekitar satu jengkal,” ujarnya sebagaimana diberitakan Inews, Jumat (17/4/2026).
Mengantisipasi risiko yang lebih besar, kedua keluarga tersebut melakukan evakuasi mandiri. Sebanyak enam jiwa kini mengungsi ke rumah kerabat yang berada di lokasi lebih tinggi dan dinilai aman dari potensi longsor susulan.
“Sementara kami mengungsi ke rumah keluarga di atas, karena tanah di sini masih terus bergerak,” tambah Toni.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana di wilayah rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Pemerintah setempat diharapkan segera melakukan langkah mitigasi guna mencegah dampak lebih luas terhadap permukiman warga. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara