Dari Wayang ke Laut, Tambakrejo Hidupkan Tradisi Agung

UPACARA adat Larung Sesaji yang digelar setiap Jumat (20/06/2025) hingga Jumat (27/06/2025) di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, bukan sekadar ritual sakral tahunan. Lebih dari itu, prosesi ini menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga identitas budaya serta memperkuat potensi ekonomi melalui sektor pariwisata berbasis tradisi.

Tradisi Larung Sesaji yang berlangsung setiap 1 Muharram atau 1 Suro ini dirayakan dengan penuh khidmat dan melibatkan ribuan masyarakat. Rangkaian kegiatan dimulai dengan selametan dan bersih desa, dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit, dan berpuncak pada kirab budaya serta pelarungan sesaji ke laut selatan.

Kirab tumpeng dan sesaji dari Kantor Desa Tambakrejo menuju Pantai Tambakrejo menjadi titik klimaks acara. Di sana, masyarakat dan pemuka adat memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan permohonan keselamatan di tahun baru Hijriah.

Kepala Desa Tambakrejo, Surani, menegaskan pentingnya pelestarian ritual ini sebagai warisan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat kebersamaan dalam merawat tradisi leluhur.

“Kegiatan ini menyatukan pikiran, perasaan, dan harapan kita semua agar diberi keselamatan dan kebahagiaan. Larung Sesaji bukan sekadar simbol, tapi juga manifestasi dari hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Surani.

Sementara itu, Bupati Blitar, Drs. Rijanto, menyampaikan apresiasi terhadap panitia dan seluruh pihak yang terlibat. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian Pantai Tambakrejo sebagai bagian dari strategi penguatan daya saing destinasi wisata lokal.

Upacara Larung Sesaji kini tidak hanya menjadi bagian dari kalender budaya masyarakat Blitar, tetapi juga menjadi magnet wisata yang potensial, terutama bagi pengunjung yang ingin menyaksikan keunikan tradisi masyarakat pesisir.

Dukungan pemerintah daerah terhadap acara ini juga menjadi sinyal kuat bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai aset pembangunan berkelanjutan, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun ekologi.

Redaksi01-Alfian

About redaksi01

Check Also

UMKM Desa Bontoborusu Naik Level Lewat Pelatihan CPPOB

PDF đź“„KEPULAUAN SELAYAR – Upaya meningkatkan daya saing produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) …

Tiga Desa Unggulan Bojonegoro Siap Bersaing di Sektor Wisata

PDF đź“„BOJONEGORO – Tiga desa di Kabupaten Bojonegoro mulai menegaskan diri sebagai penggerak baru sektor …

Penangkaran Rusa Tahura Bunder Jadi Mesin Ekonomi Baru Desa Hutan

PDF đź“„GUNUNGKIDUL – Pengembangan penangkaran rusa di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder mulai dipersiapkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *