Mucuna Chips dan Kifano, Kisah Sukses Difabel Bangun Ekonomi Desa

KULON PROGO Kelompok difabel di sejumlah desa di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berhasil membangun kemandirian ekonomi melalui usaha pangan berbasis potensi lokal. Produk keripik yang mereka hasilkan tidak hanya menembus pasar antardaerah, tetapi juga berhasil dipasarkan hingga luar negeri, sekaligus membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu mandiri dan produktif.

Keberhasilan tersebut terlihat dari pengembangan usaha Mucuna Chips milik Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) Santika di Kalurahan Kaliagung, Kecamatan Sentolo, serta Dapur Kifano yang dikelola KDK Jatisarono di Kecamatan Nanggulan. Kedua kelompok merupakan bagian dari program pemberdayaan yang didampingi Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia.

Di Kaliagung, koro benguk yang selama ini dikenal sebagai bahan baku tempe tradisional diolah menjadi keripik bernilai ekonomi tinggi. Usaha tersebut mulai dirintis pada 2022 setelah anggota KDK mendapatkan pelatihan pengolahan pangan dan kewirausahaan.

Ketua KDK Kaliagung, Keminem, mengungkapkan proses pengembangan produk tidak berlangsung mudah. Berbagai percobaan dilakukan untuk mendapatkan kualitas rasa dan tekstur yang sesuai dengan pasar.

“Kadang kalau dirajang itu ambyar. Kalau jadi pun hasilnya keras, tebal tipisnya tidak bisa rata,” ujar Keminem sebagaimana diwartakan Teras, Minggu (24/05/2026).

Menurut Keminem, kelompoknya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyempurnakan resep dan teknik produksi hingga menghasilkan produk yang layak dipasarkan.

“Belajarnya sekitar lima sampai enam bulan. Kalau benar-benar dapat rasa yang pas ya hampir satu tahun,” ucap Keminem.

Perkembangan usaha semakin pesat setelah KDK Kaliagung memperoleh dukungan Dana Keistimewaan DIY dan bantuan dari sejumlah lembaga, termasuk Bank Syariah Indonesia (BSI). Dukungan tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas produksi, membeli mesin modern, serta meningkatkan kapasitas usaha.

Fasilitator Kalurahan Kaliagung, Susrita atau Rita, menjelaskan modernisasi peralatan berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas. Produksi yang sebelumnya hanya berkisar 3 hingga 5 kilogram per hari kini meningkat menjadi 8 hingga 10 kilogram per hari.

“Lebaran tahun ini yang bisa kami layani itu sekitar dua kwintal. Yang kami tolak masih banyak. Sampai H-3 lebaran kami sudah kehabisan stok,” ujar Rita.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, Mucuna Chips kini telah dipasarkan melalui toko modern, marketplace, media sosial, hingga memenuhi pesanan dari berbagai daerah dan luar negeri, termasuk Belanda.

Salah seorang pekerja pendamping difabel, Tatik, mengatakan usaha tersebut tidak hanya memberikan tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi ruang sosial yang memperkuat rasa percaya diri para anggota.

“Kalau ada rapat-rapat itu snack-nya wajib Mucuna. Di Kalurahan dan di Puskesmas juga sebagai bentuk support dari pemerintah,” ucapnya.

“Dulu saya itu cuma ibu rumah tangga. Sekarang ada kesibukan, ada teman lah untuk sharing dan bertukar pengalaman dan pikiran. Jadi tidak merasa sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, di Kalurahan Jatisarono, KDK setempat mengembangkan usaha keripik jamur tiram dengan merek Kifano. Program tersebut lahir dari pelatihan budidaya dan pengolahan jamur yang difasilitasi Yayasan Global Saemaul Indonesia (YGSI).

Ketua KDK Jatisarono, Muhammad Atos, menjelaskan kelompoknya berupaya membangun usaha mandiri melalui produksi keripik jamur dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Perkembangan usaha semakin terbantu setelah memperoleh dukungan dana dari kompetisi yang diselenggarakan Pertamina Foundation.

“Karena kan kami lebih banyak ngambil jamur dari luar, sebelumnya yaitu dari Saemaul ini kami disubsidi. Dan kami ingin berdaya. Kami bikin kumbung jamurnya dan Dapur Kifano itu untuk pengolahan keripik jamur tadi,” tutur Atos.

Pengelola Dapur Kifano, Anastasia Sri Nataliwati atau Wiwid, menuturkan proses menemukan cita rasa yang sesuai dengan selera pasar juga memerlukan berbagai percobaan dan evaluasi.

“Kami mengulang-ulang, belajar terus. Dari resep baku yang didapat saat pelatihan, kita tambah ini, kurangi itu, sampai akhirnya dapat yang pas. Ada beberapa yang punya olahan jamur krispi juga mengakui di sini lebih renyah dan lebih gurih,” ujar Wiwid.

Selain menjadi sumber pendapatan, usaha yang dijalankan kedua kelompok tersebut juga menjadi sarana pemberdayaan sosial bagi penyandang disabilitas. Anggota yang sebelumnya hanya menjadi penerima bantuan kini terlibat aktif dalam proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran produk.

Meski masih menghadapi tantangan dalam pemasaran, kapasitas produksi, dan ketersediaan tenaga kerja, kedua kelompok terus berupaya mengembangkan usaha secara bertahap. Harapannya, semakin banyak penyandang disabilitas yang terlibat dalam aktivitas ekonomi desa sehingga tercipta masyarakat yang lebih inklusif dan mandiri.

“Tantangannya ya tetap membangun rasa kebersamaan itu aja, dan membagi waktunya. Jadi belum bisa fokus ke dapur gitu terus belum,” ujarnya.

“Harapannya ya ke depan pemasaran bisa lebih maju, bisa kontinyu, dan bisa melibatkan lebih banyak difabel,” ujarnya.

“Difabel bisa menghasilkan sesuatu, bisa produktif, bahkan ada juga yang bisa mendapat penghasilan untuk keluarganya. Jadi orang-orang tahu ternyata teman difabel ini bisa mandiri, bisa berdaya,” kata Rita. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Dugaan Penyerobotan Lahan Wakaf Hambat Pembangunan KDMP di Lembata

PDF đź“„LEMBATA – Polemik pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Rumang, Kecamatan Buyasuri, …

JBZ Jabar Dorong Generasi Muda Leuwimunding Peduli Lingkungan

PDF đź“„MAJALENGKA – Upaya meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan terus diperkuat di Desa Leuwimunding, …

Dari 10 Persen Menjadi 80 Persen, Warga Desa Bengkel Kini Rajin Pilah Sampah

PDF đź“„TABANAN – Keberhasilan Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan (Tabanan) dalam mengubah pola pengelolaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *