Melalui program BIOSMART, limbah cair pencucian sagu di Desa Tetemotaha diolah menjadi Nata de Sago untuk bahan pelapis tomat, sekaligus menghubungkan kelompok pengolah sagu dengan petani hortikultura.
KONAWE – Limbah cair pengolahan sagu di Desa Tetemotaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai dikembangkan menjadi bahan pelapis buah dan sayuran melalui inovasi Nata de Sago (NDS). Terobosan ini membuka peluang kerja sama ekonomi antara kelompok pengolah sagu dan petani hortikultura, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026 bertajuk BIOSMART (Bioindustri Sagu untuk Masyarakat Tangguh). Program ini melibatkan Institut Sains, Teknologi, dan Kesehatan (ISTEK) ‘Aisyiyah Kendari sebagai pelaksana, serta Universitas Halu Oleo sebagai tim pendamping sekaligus pemegang paten teknologi NDS dan bahan pelapis pangan atau edible coating.
Pelaksanaannya menghubungkan dua kelompok masyarakat, yakni Kelompok Pengolah Sagu Medai dan Kelompok Tani Hortikultura Kateni. Kelompok Medai mengolah limbah cair pencucian sagu melalui proses fermentasi hingga menghasilkan NDS. Produk tersebut kemudian disalurkan kepada Kelompok Tani Kateni untuk digunakan sebagai pelapis permukaan tomat.
Tim pelaksana menjelaskan bahwa pola kerja tersebut dirancang agar aktivitas ekonomi antarkelompok masyarakat saling terhubung. “Inovasi ini tidak hanya berfokus pada pengujian teknologi laboratorium, tetapi juga dirancang untuk mengintegrasikan rantai pasok antarkelompok masyarakat di tingkat desa,” jelas Venia Oktafiani, sebagaimana diberitakan TVRI News, Jumat (30/10/2026).
Meski membuka peluang pemanfaatan limbah dan pengembangan produk pertanian, efektivitas NDS dalam memperpanjang masa simpan hasil hortikultura masih memerlukan pengujian lanjutan. Hasil pengamatan hingga hari ketujuh menunjukkan tomat yang diberi pelapis maupun yang tidak diberi pelapis masih berada dalam kategori layak jual. Sementara itu, perbedaan susut bobot kedua kelompok tomat tersebut belum menunjukkan angka yang signifikan.
Selain mengembangkan teknologi pengolahan, program BIOSMART juga membekali kelompok mitra dengan perangkat pendukung usaha. Pendampingan mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi, perancangan identitas produk dan kemasan, serta penghitungan harga pokok produksi.
Dukungan tersebut diharapkan membantu kelompok masyarakat mengelola hasil inovasi secara lebih terarah, mulai dari proses produksi hingga persiapan pemasaran. Dengan demikian, pemanfaatan limbah sagu tidak hany
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara