Dari Desa Alue Jang, Olahan Lele Disiapkan Masuk Pasar Modern

Melalui Program MASAMO di Desa Alue Jang, Kemenekraf mendampingi 45 pelaku usaha kuliner mengembangkan olahan ikan lele menjadi produk siap saji yang berpeluang menembus pasar ritel modern.

BANDA ACEH DESA NUSANTARA – Pengolahan ikan lele menjadi produk makanan siap saji dengan masa simpan lebih panjang menjadi salah satu peluang yang diperkenalkan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) kepada pelaku usaha kuliner di Kabupaten Aceh Jaya. Inovasi tersebut diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk jaringan ritel modern, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan pangan lokal.

Upaya itu diwujudkan melalui Program Masak Bersama Master (MASAMO) yang digelar di Desa Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut melibatkan 45 pelaku usaha kuliner yang mendapat pendampingan untuk mengembangkan produk olahan berbasis potensi pangan daerah.

Direktur Kuliner Kemenekraf Romi Astuti mengatakan, kreativitas dalam mengolah bahan pangan lokal dapat menjadi modal bagi pelaku usaha untuk menciptakan produk baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Melalui kegiatan MASAMO, kita ingin menunjukkan bahwa dari bahan pangan lokal yang sederhana, sentuhan kreativitas dapat melahirkan produk baru yang tidak hanya menarik, tetapi juga bernilai jual,” ujar Romi, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (30/10/2026).

Dalam program tersebut, peserta didampingi ahli kuliner profesional untuk mengolah komoditas perikanan setempat, terutama ikan lele, menjadi produk dengan konsep penyajian yang lebih modern. Dua produk yang dikembangkan adalah Lele Gulung Crispy with Black Curry dan Spaghetti with Acehnese Catfish Seasoning.

Pengembangan produk tidak berhenti pada variasi rasa dan penyajian. Peserta juga mendapat pembekalan untuk menghasilkan makanan siap saji atau ready-to-eat (RTE) yang memenuhi spesifikasi komersial. Materi tersebut mencakup teknik pengolahan dan sterilisasi guna memperpanjang masa simpan produk.

Dengan masa simpan yang lebih panjang, produk diharapkan dapat didistribusikan tanpa ketergantungan pada rantai pendingin atau cold chain. Hal ini berpotensi mengurangi hambatan distribusi sekaligus memperbesar kesempatan produk kuliner lokal memasuki jaringan ritel modern.

MASAMO merupakan bagian dari Program Unggulan Aktivasi Desa. Selain pengembangan produk, Kemenekraf memberikan pembekalan mengenai pengelolaan usaha, keuangan, pemasaran digital, serta perlindungan kekayaan intelektual (KI). Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam mengelola dan mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Penguatan subsektor kuliner dinilai strategis karena memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi kreatif nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor ini mencatatkan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp721,82 triliun pada 2025 atau menyumbang 41,06 persen terhadap PDB ekonomi kreatif nasional.

Melalui pendampingan tersebut, potensi pangan lokal diharapkan dapat berkembang menjadi produk komersial yang mampu bersaing di pasar lebih luas. Keberhasilan pengembangan usaha tidak hanya ditentukan oleh kreativitas, tetapi juga kualitas, daya tahan produk, kemasan, serta kemampuan pelaku usaha memahami kebutuhan konsumen. []

Redaksi 01

About redaksi01

Check Also

Inovasi Nata de Sago Hubungkan Pengolah Sagu dan Petani Hortikultura

PDF đź“„Melalui program BIOSMART, limbah cair pencucian sagu di Desa Tetemotaha diolah menjadi Nata de …

Rehabilitasi Pesisir Banyuasin, 22.000 Mangrove Jadi Harapan Baru

PDF đź“„Medco E&P Grissik Ltd. bersama SKK Migas, pengelola hutan desa, dan masyarakat mengevaluasi pertumbuhan …

Musim Hujan Tiba, Desa Nyalindung Perkuat Gerakan Bersih Lingkungan

PDF đź“„Pemerintah Desa Nyalindung bersama Bhabinkamtibmas, Satlinmas, santri, dan masyarakat menggelar Jumat Bersih untuk mencegah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *