Bukan Sekadar Ritual, Tetulak Tamperan Simpan Pesan Menjaga Laut

Tradisi tahunan Tetulak Tamperan di Pringgabaya, Lombok Timur, diwariskan masyarakat adat pesisir sebagai ikhtiar memohon keselamatan di laut dan menjaga nilai saling menghormati antara manusia dan alam.

LOMBOK TIMUR DESA NUSANTARA  – Tradisi Tetulak Tamperan yang diwariskan masyarakat adat pesisir Desa Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyimpan pesan tentang pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dan laut. Ritual tahunan yang dijaga nelayan dari suku Mandar, Bugis, dan Bajau ini menjadi ikhtiar memohon perlindungan dari musibah sekaligus wujud rasa syukur atas rezeki hasil laut.

Lebih dari sekadar ritual menolak bala, Tetulak Tamperan berakar pada kepercayaan turun-temurun yang mengajarkan manusia untuk menghormati laut sebagai sumber penghidupan. Nilai tersebut tercermin dalam legenda tentang kesepakatan antara leluhur masyarakat pesisir dan raja ikan paus biru.

Tokoh adat Desa Pringgabaya, Amaq Rusdian, menjelaskan bahwa kisah tersebut bermula ketika seorang leluhur bernama Uaqdama berjalan di tepi madaq atau pinggir laut. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, Uaqdama kemudian didatangi raja ikan berupa paus biru yang ingin mengetahui kehebatan akal manusia.

Untuk menunjukkan kecerdikannya, Uaqdama menyusun siasat dengan membuat bebonto, yakni orang-orangan sawah dari jerami. Benda tersebut dipasangi kail, kemudian diikatkan pada pohon di tepi pantai.

“Saat sang paus menghampiri lalu memakan bebonto tersebut, raja laut itu tersangkut kail yang dipasang di dalamnya,” ungkap Amaq Rusdian.

Paus biru yang terjerat kemudian meminta pertolongan Uaqdama agar dapat dibebaskan. Pertemuan itu, menurut legenda setempat, berujung pada kesepakatan yang menjadi dasar kepercayaan masyarakat dalam menjalankan Tetulak Tamperan.

Paus biru beserta keturunannya dikisahkan berjanji membantu dan menyelamatkan manusia yang mengalami musibah di tengah laut. Sebagai balasannya, manusia berkomitmen memberikan sedekah dari rezeki dan hasil tangkapan yang diperoleh melalui aktivitas melaut.

Kesepakatan tersebut mengandung pesan tentang kewajiban untuk saling menjaga. Bagi masyarakat pesisir, laut tidak hanya dipandang sebagai tempat mencari nafkah, tetapi juga sebagai ruang kehidupan yang menuntut rasa hormat, kehati-hatian, dan kesadaran akan risiko yang dihadapi nelayan.

“Komitmen saling menjaga serta ikhtiar memohon perlindungan dari bala ini menjadi fondasi utama pelaksanaan tradisi Tetulak Tamperan,” terang Amaq Rusdian.

Nilai spiritual dan sosial yang terkandung dalam tradisi ini menjadi bagian dari identitas masyarakat adat pesisir Pringgabaya. Pewarisannya dari generasi ke generasi menunjukkan upaya masyarakat mempertahankan keyakinan leluhur sekaligus menjaga kebersamaan di tengah kehidupan yang sangat bergantung pada laut.

Melalui pelestarian Tetulak Tamperan, masyarakat pesisir diharapkan dapat terus merawat warisan budaya dan nilai saling menjaga yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa upaya memohon keselamatan perlu berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap risiko laut dan pentingnya menjaga kehidupan bersama. []

Redaksi 1

About redaksi01

Check Also

Kenduri Mbah Bregas Rawat Sejarah dan Kebersamaan Warga Margoagung

PDF đź“„Tradisi pascapanen di Margoagung menjadi sarana mengenang cikal bakal desa sekaligus mengenalkan nilai budaya …

Nyadran Silurah Jadi Ruang Belajar Sejarah bagi Generasi Muda

PDF đź“„Tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun ini terus dijaga melalui rangkaian ritual, kirab hasil …

Pisowanan Plosowahyu Jadi Penguat Kebersamaan Warga

PDF đź“„Memasuki tahun keempat, tradisi Pisowanan di Desa Plosowahyu menjadi ruang doa bersama sekaligus pengingat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *