Dari Kalimantan ke Kebumen, Jejak Panjang Kesenian Dayak

Kesenian Dayak di Desa Krakal, Kebumen, memadukan tradisi bela diri Kalimantan, aliran Jawa, dan musik Jamjaneng, dengan sekitar 30 personel aktif yang menjaga keberlangsungannya lintas generasi.

KEBUMEN DESA NUSANTARA  – Regenerasi menjadi salah satu kunci keberlangsungan kesenian Dayak di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tradisi yang tumbuh sejak masa pascakemerdekaan Republik Indonesia (RI) itu masih dijaga sekitar 30 personel aktif, sekaligus menjadi bukti pertemuan budaya Kalimantan dan Jawa yang diwariskan lintas generasi.

Keberadaan kesenian tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan juga bagian dari sejarah sosial masyarakat setempat. Perjalanan panjangnya melibatkan para perantau, pelatih seni bela diri tradisional, kelompok musik lokal, hingga generasi muda yang kini meneruskan tradisi tersebut.

Sebagaimana diberitakan Times Indonesia, Kamis (29/10/2026), kesenian Dayak di Krakal berawal dari pengalaman Kusen, warga Dukuh Pagerkemiri yang pernah merantau ke Kalimantan. Setelah kembali ke kampung halaman, ia membawa pengetahuan tentang seni bela diri dan tarian tradisional Dayak untuk diperkenalkan kepada masyarakat setempat. <Cite refs={[“turn623130search0”]}/>

Kusen kemudian menikahi Asiyah, seorang janda dari Dukuh Jatiwera, Desa Krakal. Dari lingkungan inilah ia mulai mengajarkan kesenian tersebut kepada warga. Mbah Sobari dan Mbah Jahri termasuk murid generasi awal yang belajar bersama rekan-rekan mereka dari Dukuh Jatiwera.

Pada masa awal perkembangannya, kelompok kesenian Dayak Kalimantan di Krakal juga menjadi bagian dari Pasukan Angkatan Oemat Islam (AOI) Somalangu. Laskar Islam yang turut berjuang untuk RI itu dipimpin oleh Romo Pusat, yang bernama lengkap Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman Al-Hasani.

Keterlibatan kelompok tersebut dalam kehidupan masyarakat membuat kesenian Dayak tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga mengisi berbagai kegiatan bersama warga, termasuk peringatan kemerdekaan.

“Ketika ada latihan maupun kegiatan desa seperti perayaan 17 Agustus, kesenian ini selalu dilibatkan,” kenang Mbah Wasilan (86), salah satu saksi sejarah asal Desa Krakal.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Perjalanannya panjang dan melibatkan banyak tokoh lokal yang berdedikasi tinggi, tidak lain tidak bukan karena kita diharuskan untuk nguri-nguri kebudayaan,” imbuh sosok yang sejak usia muda telah mengikuti dan menyaksikan langsung dinamika perkembangan kesenian Dayak di dukuh Pagerkemiri, Desa Krakal.

Keunikan kesenian Dayak di Krakal terlihat dari perpaduan dua aliran bela diri tradisional, yakni Kuntau Dayak dari Kalimantan dan Konto Jawa yang berkembang di sejumlah wilayah Jawa, termasuk pesisir Jawa Tengah serta Pulau Bawean.

Kuntau Dayak diperkenalkan oleh Kusen kepada masyarakat Desa Krakal. Aliran ini berkembang di lingkungan masyarakat Dayak dan memiliki unsur perpaduan seni bela diri serta pengaruh budaya yang beragam, termasuk pengaruh kungfu Tionghoa.

Sementara itu, aliran Konto Jawa diajarkan oleh Mario, seorang maestro asal Solo yang menikah dengan warga Dukuh Jatiwera. Ia dikenal sebagai penunggang kuda ulung sekaligus pelatih pacuan kuda yang disegani masyarakat dari luar desa. Semasa hidupnya, Mario disebut tidak pernah kalah dalam perlombaan berkuda.

Salah satu murid Mario yang tekun mendalami Konto Jawa hingga menyelesaikan pelatihannya adalah Saiful Bahri, warga Dukuh Jatiwera yang kini menjadi narasumber dalam penelusuran sejarah kesenian tersebut.

Perpaduan dua aliran itu memperlihatkan bagaimana tradisi yang berasal dari wilayah berbeda dapat tumbuh berdampingan dan membentuk karakter kesenian lokal. Warisan tersebut menjadi bagian dari kekhasan budaya Desa Krakal.

Selain gerak tari dan bela diri, musik tradisional Jamjaneng menjadi unsur penting dalam setiap penampilan maupun latihan kesenian Dayak di Krakal. Tabuhan alat musik dan vokal pengiring berpadu dengan gerakan para pemain, menciptakan ciri khas pertunjukan yang dipertahankan hingga kini.

Hubungan kedua kesenian itu berawal dari latar belakang para pelaku generasi pertama. Sebagian besar mereka merupakan anggota kelompok seni Jamjaneng di wilayah setempat sehingga perpaduan musik dan gerakan berkembang secara alami.

Keberlangsungan tradisi tersebut kemudian diteruskan melalui pergantian generasi. Saat ini, Amad Mudakir dan Udin menjadi pengurus sekaligus koordinator kesenian Dayak di Desa Krakal. Keduanya berasal dari wilayah Dukuh Kebonjanggleng, sedangkan sebagian besar personel aktif berpusat di Dukuh Jatiwera.

Jumlah personel yang masih aktif menjadi salah satu modal untuk menjaga kesinambungan kesenian tersebut. Mbah Wasilan menyebut regenerasi terus berlangsung hingga sekarang.

“Hingga saat ini, regenerasi terus berjalan. Tercatat ada sekitar 30-an orang personel aktif yang menjaga agar warisan leluhur ini tetap hidup di tengah masyarakat,” ujar Mbah Wasilan.

Pelestarian kesenian Dayak juga mendapat dukungan dari kalangan muda. Teguh Haryanto, salah satu personel aktif dari Dukuh Jatiwera, menyatakan bahwa generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga tradisi yang diwariskan para pendahulu.

“Sebagai generasi muda di Dukuh Jatiwera, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan apa yang telah dirintis oleh para leluhur,” ungkap Teguh Haryanto penuh semangat.

Ia menilai kesenian Dayak yang diiringi Jamjaneng memiliki makna lebih luas daripada sekadar pertunjukan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus mempertahankan identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman.

“Tarian Dayak dan iringan Jamjaneng di Desa Krakal bukan sekadar warisan seni, melainkan simbol kebersamaan, ketangguhan, dan identitas kami. Kami siap mengawal agar kesenian ini tetap lestari dan dicintai oleh anak-anak muda seusia kami,” lanjutnya.

Pegiat sejarah Desa Krakal, M. Amin Fitriyadi, menilai keberadaan kesenian Dayak dan Jamjaneng perlu dipahami sebagai bagian dari identitas masyarakat yang harus dirawat. Menurutnya, warisan tersebut menyimpan nilai gotong royong, ketangguhan mental, dan nasionalisme yang berkaitan dengan perjalanan sejarah para pendahulu.

“Kebudayaan dan sejarah di desa kita sendiri bukanlah sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi jati diri masyarakat Desa Krakal,” ujar M. Amin Fitriyadi, Kamis (29/10/2026).

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai yang diwariskan melalui kesenian tersebut berkaitan dengan semangat perjuangan generasi terdahulu.

“Di dalam kesenian Dayak dan Jamjaneng ini terkandung nilai gotong royong, ketangguhan mental, dan semangat nasionalisme yang diwariskan oleh para pejuang laskar Islam terdahulu,” tambahnya.

Menurut Amin, merawat sejarah lokal berarti menjaga akar identitas masyarakat agar generasi berikutnya tetap mengenal asal-usul budayanya.

Keberadaan para sesepuh, pelaku seni, pegiat sejarah, dan generasi muda menjadi modal penting bagi keberlanjutan kesenian Dayak di Desa Krakal. Dengan regenerasi yang terus berjalan dan keterlibatan masyarakat, tradisi tersebut diharapkan tetap hidup sebagai warisan budaya sekaligus pengikat kebersamaan warga Kebumen. []

Redaksi 1

About redaksi01

Check Also

Khao Sok Bidik Pariwisata Berkelanjutan, Ekonomi Warga Lokal Jadi Perhatian

PDF đź“„Pengembangan pariwisata Khao Sok di Thailand hingga 2030 diarahkan pada penguatan ekonomi masyarakat lokal, …

Kenduri Mbah Bregas Rawat Sejarah dan Kebersamaan Warga Margoagung

PDF đź“„Tradisi pascapanen di Margoagung menjadi sarana mengenang cikal bakal desa sekaligus mengenalkan nilai budaya …

Nyadran Silurah Jadi Ruang Belajar Sejarah bagi Generasi Muda

PDF đź“„Tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun ini terus dijaga melalui rangkaian ritual, kirab hasil …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *