Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengajak masyarakat memahami sejarah Kutai melalui pelestarian tradisi Erau Adat Pelas Benua sebagai bagian dari penguatan identitas budaya daerah.
ADVERTORIAL – Sejarah panjang Kutai menjadi perhatian Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, dalam upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap identitas budaya daerah. Melalui penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua pada 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim berupaya mengingatkan masyarakat bahwa wilayah tersebut memiliki keterkaitan sejarah dengan peradaban dan tradisi Kutai.
Ardiansyah menegaskan pentingnya pemahaman sejarah tersebut saat menghadiri malam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Sangatta, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, sejarah Kutai tidak dapat dipisahkan dari perkembangan wilayah dan pemerintahan di Kalimantan Timur (Kaltim). Karena itu, masyarakat perlu memahami perjalanan sejarah daerah sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya leluhur.
Ia menjelaskan bahwa pada 1953 terdapat ketentuan perundang-undangan yang mengakui keberadaan Daerah Istimewa Kutai. Dalam penjelasannya, wilayah tersebut memiliki keterkaitan historis dengan Samarinda dan Balikpapan.
Perubahan ketentuan perundang-undangan pada 1959 kemudian membawa perubahan terhadap struktur pemerintahan daerah, termasuk berakhirnya kedudukan Daerah Istimewa Kutai dan terbentuknya sejumlah daerah tingkat II.
Ardiansyah menyebut perubahan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kutai yang perlu diketahui masyarakat, terutama generasi muda.
“Artinya apa? Seluruh wilayah ini merupakan bagian sejarah daripada adat dan kebudayaan Kutai,” ujarnya, sebagaimana diberitakan dalam rangkaian peringatan HUT ke-27 Kutim, Sabtu (24/10/2026).
Ia menilai perubahan wilayah administrasi pemerintahan tidak menghilangkan hubungan sejarah dan kebudayaan yang telah terbentuk sejak masa lalu. Warisan tersebut tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Atas dasar itu, Pemkab Kutim mulai menyelenggarakan Erau Adat Pelas Benua pada 2026 sebagai salah satu agenda budaya dalam peringatan hari jadi daerah.
Penyelenggaraan kegiatan adat tersebut dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada para pendahulu sekaligus memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah dan tradisi Kutai kepada masyarakat.
“Oleh karenanya pada tahun ini kita memulai kegiatan adat dan budaya tersebut untuk kita memberikan penghargaan kepada leluhur dan mengenang sejarah terkait dengan daerah Kutai,” jelasnya.
Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman.
Peringatan HUT ke-27 Kutim juga diisi sejumlah kegiatan yang diselenggarakan perangkat daerah. Salah satunya pemeriksaan Pap smear oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pemeriksaan tersebut merupakan salah satu metode deteksi dini perubahan sel pada leher rahim yang berpotensi berkaitan dengan kanker serviks.
Melalui rangkaian kegiatan budaya dan pelayanan masyarakat tersebut, Pemkab Kutim berharap peringatan hari jadi daerah tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga momentum untuk meningkatkan pemahaman sejarah, memperkuat identitas budaya, dan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap warisan leluhur. []
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara