LUBUK PAKAM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang mendorong pengelolaan potensi biomassa yang melimpah di desa-desa sebagai fondasi kemandirian energi sekaligus penggerak kesejahteraan warga perdesaan, sebagaimana diwartakan Waspada.id, Sabtu, (24/10/2026).
Langkah strategis ini dibahas dalam Kelompok Diskusi Terfokus (KDT) sebelumnya tertulis Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Sumber Daya Alam di Desa guna Mencapai Swasembada Energi yang berlangsung di Graha Bhinneka Perkasa Jaya, Lubukpakam, Jumat (23/10/2026).
Wakil Bupati (Wabup) Deliserdang Lom Lom Suwondo menegaskan bahwa perubahan pola pikir menjadi kunci utama. Selama ini sisa panen dan kebun kerap dianggap sampah, padahal merupakan kekayaan yang dapat diolah menjadi pendapatan warga.
“Yang perlu kita ubah bukan hanya cara mengolahnya, tetapi juga cara kita melihatnya. Sisa pertanian, perkebunan, dan industri bukan semata-mata limbah, tetapi dapat menjadi sumber daya dan peluang usaha,” kata Lom Lom.
Deliserdang telah memiliki pengalaman nyata mengembangkan pembangkit listrik tenaga biomassa di Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut Seituan, dengan memanfaatkan kayu karet hasil peremajaan kebun. Kini tantangannya memperluas jangkauan, membangun rantai pasok yang teratur, serta memastikan warga desa menikmati manfaat secara langsung.
“Swasembada energi tidak hanya dibangun dari pembangkit dan kebijakan di tingkat pusat. Swasembada energi juga dapat dimulai dari kebun, sawah, dan desa,” ujarnya.
Pemerintah menempatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), koperasi, dan kelompok tani sebagai pelaku utama bukan sekadar penyuplai bahan baku agar warga memperoleh nilai tambah dari proses pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi biomassa. Hasil yang diharapkan dari forum ini meliputi rancangan rantai pasok, verifikasi BUMDes yang siap berperan, titik pengumpulan di setiap desa dan kecamatan, serta kemitraan usaha yang profesional.
“Pasokan harus jelas setiap bulan, kualitasnya terukur, dan kemitraannya harus dibangun secara profesional. Dengan demikian, potensi yang ada benar-benar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Komisaris Utama PT Perusahaan Listrik Negara Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Nikson Silalahi menyatakan bahwa biomassa menjadi pilar penting transisi energi nasional sekaligus penggerak ekonomi rakyat. PLN EPI menargetkan penyediaan sekitar 3,65 juta ton biomassa pada 2026 untuk mendukung program pembakaran bersama (co-firing) di 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Setiap 100.000 ton biomassa per tahun berpotensi menguntungkan sekitar 1.000 orang dalam mata rantai usahanya.
“Potensi lokal dapat kita ubah menjadi sumber energi sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat,” jelasnya.
“Rantai pasok biomassa bukan sekadar urusan menyediakan bahan bakar untuk pembangkit listrik. Di balik setiap ton biomassa, ada aktivitas ekonomi, ada tenaga kerja yang terlibat, ada petani yang memperoleh penghasilan, dan ada peluang usaha yang dapat tumbuh di tengah masyarakat,” paparnya.
Forum ini juga menghadirkan Direktur Biomassa PT PLN EPI Hokkop Situngkir, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember Soni Sisbudi Harsono, Staf Khusus Kementerian Desa Bidang Kebijakan Publik dan Pembangunan Andi Rahmah, Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa Andrey Ikhasan Lubis, serta Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Jenderal Pembangunan Ekonomi dan Investasi Desa (PEID) Kementerian Desa Rizki Rahmawaty Lubis. Pembahasan mencakup hilirisasi limbah biomassa, kebijakan kolaborasi desa, partisipasi warga, hingga arah pengembangan ekonomi desa.
Kolaborasi antarpemangku kepentingan diharapkan memastikan potensi biomassa dikelola berkelanjutan, memiliki pasar yang tetap, dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan warga desa di seluruh Pemkab Deliserdang. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara