Penurunan kasus stunting di Desa Pagerungan Besar dan Desa Pagerungan Kecil hingga Agustus 2026 diikuti penguatan kader Posyandu untuk menjaga pemantauan kesehatan balita dan pencegahan stunting di wilayah kepulauan.
SUMENEP – Dua desa di wilayah kepulauan Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep (Sumenep), mencatat penurunan kasus stunting sepanjang 2026. Di Desa Pagerungan Besar, jumlah balita stunting turun dari 11 menjadi enam kasus, sedangkan Desa Pagerungan Kecil mencatat penurunan dari 15 menjadi lima kasus hingga Agustus 2026.
Penurunan tersebut menjadi bagian dari perkembangan layanan kesehatan di kedua desa yang tetap membutuhkan penguatan, terutama dalam pemantauan tumbuh kembang balita dan pendampingan keluarga. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang berlangsung pada 22–23 September 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kangean Energy Indonesia (KEI), dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pagerungan Besar. Kader dari empat desa, yakni Pagerungan Besar, Pagerungan Kecil, Tanjung Kiaok, dan Sakala, mengikuti pelatihan tersebut.
Sebagaimana diberitakan Tribun Madura, Jumat, (25/09/2026), data yang dipaparkan dalam kegiatan menunjukkan Desa Pagerungan Besar masih memiliki enam anak yang mengalami stunting serta dua balita dengan kondisi gizi buruk. Sementara itu, Desa Pagerungan Kecil masih mencatat lima anak stunting, sedangkan data gizi buruk di desa tersebut masih dalam proses verifikasi.
Bagi desa-desa kepulauan tersebut, kader Posyandu menjadi bagian penting dalam pemantauan kesehatan masyarakat karena berhubungan langsung dengan keluarga. Penguatan kapasitas kader diarahkan untuk membantu pemantauan pertumbuhan balita, memberikan edukasi kepada keluarga, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam pencegahan stunting.
Kepala Puskesmas Pagerungan Besar, Moh Salim, mengatakan kader Posyandu memiliki peran strategis sebagai penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan.
“Kehadiran mereka di tengah masyarakat diharapkan dapat membantu memastikan pemantauan kesehatan balita berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Salim juga menyampaikan dukungan terhadap keterlibatan SKK Migas-KEI dalam peningkatan kapasitas kader di wilayah kepulauan.
“Dengan perhatian SKK Migas-KEI ini, semoga kapasitas para kader semakin meningkat dan kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan,” harapnya.
Penguatan layanan di desa juga dilakukan melalui Program Cendana atau Cegah Stunting dengan Edukasi Gizi dan Pangan Lokal Tahun 2026. Program tersebut mencakup pendampingan bagi anak yang mengalami stunting serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Materi pelatihan bagi kader mencakup penatalaksanaan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis pada 100 hari pertama kehidupan, penanganan dan pencegahan balita stunting, serta bimbingan teknis pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal.
Materi tersebut menekankan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pemenuhan gizi ibu dan anak, pemeriksaan kehamilan, pemberian Air Susu Ibu (ASI), makanan pendamping ASI, serta deteksi dini menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting.
Camat Sapeken Hamka menilai pelaksanaan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) SKK Migas-KEI memberikan manfaat bagi masyarakat kepulauan, khususnya dalam mendukung sektor kesehatan di tengah keterbatasan anggaran desa.
“Kita perlu bersyukur karena KEI berkomitmen menyediakan ruang edukasi berupa pelatihan untuk kader posyandu,” paparnya.
Hamka menyebut kader Posyandu berperan langsung dalam memastikan ibu hamil dan balita mendapatkan pemantauan kesehatan secara rutin.
“Mereka berperan memastikan ibu hamil dan balita memperoleh pemantauan kesehatan secara rutin,” ucap Hamka.
Apresiasi terhadap penguatan kader juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep Ellya Fardasah. Menurutnya, peningkatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan stunting, terutama di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan akses pelayanan kesehatan.
“Pelatihan kader posyandu ini merupakan bentuk semangat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,” katanya.
“Kader memiliki peran penting dalam mendampingi keluarga, memantau tumbuh kembang balita, serta menyampaikan edukasi kesehatan,” kata Ellya Fardasah.
Ellya berharap kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat terus diperkuat agar pencegahan stunting di wilayah kepulauan dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Manager Public and Government Affair (PGA) sekaligus penanggung jawab Program PPM KEI, Kampoi Naibaho, mengatakan pencegahan stunting perlu dilakukan sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi ibu, serta pemantauan berat dan tinggi badan anak secara berkala.
“Karena itu, kami memandang pelatihan ini sangat penting dilakukan secara kolaboratif. Semoga bermanfaat untuk kita semua,” terang Kampoi Naibaho.
Penguatan kader di empat desa tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan pemantauan kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan. Penurunan kasus di Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil sekaligus menjadi dasar untuk terus memperkuat pendampingan keluarga dan pelayanan Posyandu agar upaya pencegahan stunting dapat berlanjut. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara