Kekeringan berkepanjangan mulai mengganggu kehidupan masyarakat Desa Linggaraja, Kabupaten Tasikmalaya, dari sumur yang mengering hingga peternak yang harus mencari rumput ke wilayah lain.
TASIKMALAYA – Kekeringan berkepanjangan mulai menekan kehidupan masyarakat Desa Linggaraja, Kabupaten Tasikmalaya, terutama warga yang menggantungkan penghasilan dari pertanian dan peternakan. Kondisi tersebut membuat sumur mengering, lahan pertanian sulit digarap, serta pakan hijau untuk ternak semakin sulit diperoleh.
Dampak kekeringan bahkan membuat peternak harus mencari pakan hingga ke wilayah Kota Tasikmalaya. Kondisi itu dialami Asep, peternak asal Desa Linggaraja, yang selama lebih dari sebulan harus menempuh perjalanan lebih jauh demi memenuhi kebutuhan rumput bagi ternaknya.
“Sudah sebulan lebih mencari rumput ke daerah Tasikmalaya Kota. Di kampung sudah susah, rumput hijau semakin jarang karena kemarau,” kata Asep.
Kesulitan memperoleh pakan membuat aktivitas beternak masyarakat desa menjadi lebih berat. Jika sebelumnya rumput dapat diperoleh di sekitar lingkungan tempat tinggal, kini peternak harus menghabiskan waktu sejak pagi hingga sore untuk mencarinya.
Kondisi tersebut terjadi ketika lahan pertanian di Desa Linggaraja juga mengalami kekeringan. Sawah yang biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk bercocok tanam tidak dapat digarap seperti kondisi normal karena keterbatasan air.
Persoalan air turut dirasakan masyarakat melalui mengeringnya sumur. Situasi itu menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya berdampak pada kegiatan pertanian, tetapi juga menyentuh kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan aktivitas peternakan dan kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Desa Linggaraja melakukan ikhtiar keagamaan dengan melaksanakan shalat istisqa atau shalat meminta hujan secara serentak di empat titik yang tersebar di empat kedusunan pada Jumat (25/9/2026).
Pelaksanaan tersebut merupakan hasil kesepakatan 20 Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang berada di empat kedusunan. Warga dari berbagai kelompok usia mengikuti kegiatan yang salah satunya dilaksanakan di areal persawahan yang sedang mengalami kekeringan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Linggaraja, Kholis Mukhlis, mengatakan shalat istisqa menjadi bentuk ikhtiar masyarakat setelah menghadapi kekeringan dalam waktu cukup lama. Sebagaimana diberitakan Jabar Ekspres, Jumat, (25/09/2026), ia berharap pelaksanaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk mendapatkan hujan.
“Pelaksanaan istisqa secara serentak di empat titik se-Desa Linggaraja ini sebagai bentuk ikhtiar kita yang telah cukup lama dilanda kekeringan. Semoga kegiatan ini menjadi wasilah turunnya hujan, dan hujan yang menjadi rahmat bagi kehidupan,” ungkapnya.
Karena shalat istisqa relatif jarang dilaksanakan, panitia terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tata cara pelaksanaannya. Penjelasan juga mencakup tradisi membalik posisi selendang atau kain yang dikenakan saat khatib menyampaikan khutbah kedua.
Bagi masyarakat Desa Linggaraja, harapan terhadap turunnya hujan berkaitan langsung dengan kondisi kehidupan di tengah kemarau. Ketersediaan air dibutuhkan agar sumur dapat kembali terisi, lahan pertanian dapat dimanfaatkan, serta peternak tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan rumput.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kekeringan di Desa Linggaraja tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas pertanian dan peternakan masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara