Kebakaran di Desa Gumbil, Hulu Sungai Selatan, tidak hanya menghanguskan lima rumah, tetapi juga menyulitkan proses pemadaman dan menambah persoalan warga yang tengah menghadapi kekurangan air.
KANDANGAN – Warga Desa Gumbil, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), menghadapi persoalan berlapis setelah kebakaran menghanguskan lima rumah di RT 3, RK 2, Kecamatan Telaga Langsat, Jumat (25/9/2026). Selain kehilangan tempat tinggal dan barang berharga, warga juga terkendala keterbatasan air saat api dipadamkan.
Kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang membuat ketersediaan air bersih di Desa Gumbil berkurang. Sungai yang berada di belakang permukiman memiliki debit air sedikit dan berjarak cukup jauh, sementara sebagian sumur warga mengering.
Ketua Rukun Kampung (RK) 3 Jamaluddin mengatakan keterbatasan air menjadi salah satu kendala ketika kebakaran terjadi. Warga pun berupaya menyelamatkan barang yang masih dapat diamankan dari rumah korban.
“Memang kondisi air kosong dan cukup sulit saat ini di desa kami.m sehingga menjadi kendala. Di tengah kondisi tersebut, kami berupaya mengungsi barang yang dapat diselamatkan,” katanya, Jumat (25!9/2026).
Keterbatasan sumber air membuat warga menggunakan batang yang masih memiliki dedaunan untuk membantu memukul api agar tidak terus menjalar. Kondisi rumah yang rata-rata berbahan kayu dan jaraknya berdekatan juga disebut membuat api lebih cepat merambat.
“ Ada sungai di belakang tapi airnya sedikit dan jaraknya juga cukup jauh. Sementara sumur juga kering, sebagian berisi tapi tidak banyak,” jelasnya.
Kebakaran tersebut berdampak terhadap tujuh Kepala Keluarga (KK). Laporan awal mencatat 18 jiwa terdampak, kemudian berdasarkan laporan terakhir Taruna Siaga Bencana (Tagana) HSS jumlahnya menjadi 20 orang.
Para korban untuk sementara mengungsi di rumah keluarga dan kerabat. Di tengah kondisi tersebut, warga bersama korban juga bergotong royong membersihkan sisa bangunan dan memasang terpal untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
“Masing-masing memang ada keluarga yang menampung bagi mereka untuk sementara. Saat ini juga warga dan korban bergotong-royong membersihkan sisa bangunan dan memasang terpal untuk keperluan mendadak,” bebernya.
Jamaluddin menyebut sebagian besar korban kehilangan harta berharga dan dokumen penting akibat kebakaran. Dua rumah bahkan dalam kondisi kosong ketika pemiliknya meninggalkan rumah.
“Apalagi saat kejadian dua rumah dalam keadaan kosong ditinggal pemiliknya,” terangnya.
Setelah kejadian, pemerintah desa berupaya meminta bantuan kepada pemerintah daerah untuk mendukung penanganan warga terdampak. Bantuan tanggap darurat kemudian disalurkan Dinas Sosial (Dinsos) melalui Tagana HSS berupa sembako, peralatan memasak, perlengkapan tidur, dan kebutuhan lainnya.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari penanganan awal bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, warga dan korban masih melakukan pembersihan sisa bangunan serta menata kebutuhan sementara di tengah kondisi ketersediaan air yang terbatas.
Dengan kondisi tersebut, pemulihan warga Desa Gumbil tidak hanya berkaitan dengan kehilangan akibat kebakaran, tetapi juga berlangsung di tengah persoalan kekurangan air yang sebelumnya sudah dirasakan masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara