Desa Jadi Kunci Pengolahan Sampah Organik di Bali

Sampah organik yang mendominasi timbulan sampah di Bali dinilai dapat dimanfaatkan desa menjadi pupuk organik sekaligus mendukung upaya memperbaiki kondisi lahan pertanian.

DENPASAR – Desa di Bali didorong menjadi pusat pengolahan sampah organik dengan mengubah limbah menjadi pupuk, sehingga sampah yang selama ini dikumpulkan dan dibuang dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kondisi lahan pertanian.

Dorongan tersebut disampaikan Ni Luh Kartini dalam Dialog Kenegaraan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) di Denpasar, Jumat, sebagaimana diberitakan Antara, Sabtu (26/09/2026).

Menurut Kartini, pengelolaan sampah dari desa dapat diarahkan hingga hanya menyisakan residu yang keluar dari wilayah tersebut. Pola itu dinilai berpotensi menekan biaya pengelolaan sampah sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan pertanian.

“Solusinya kita di Bali ini ada satu tempat, contoh yang memang benar-benar di desa itu bisa bersih, bisa hanya keluar residu saja dari sana sehingga kita akan bisa menurunkan biaya yang dibutuhkan,” kata Kartini dalam Dialog Kenegaraan DPD RI di Denpasar, Jumat.

Komposisi sampah di Bali menjadi salah satu alasan pengelolaan dari tingkat desa dinilai penting. Sampah organik mencapai 65 persen pada hari biasa dan meningkat hingga 90 persen saat hari suci atau upacara keagamaan.

Namun, masyarakat desa masih terbiasa menerapkan pola kumpul, angkut, dan buang ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Sampah juga masih ditemukan berakhir di sungai.

Menurut Kartini, kondisi tersebut membuat material organik yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk pertanian justru terbuang. Pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk dinilai dapat membantu mengatasi rendahnya kandungan bahan organik pada lahan di Bali.

“Yang sangat ironis yang terjadi yaitu sampah organik yang jumlahnya 65 sampai 90 persen itu terbuang, di satu sisi lahan kita Bali kadar bahan organiknya kurang dari 1 persen yang seharusnya 5 persen, jadi sebenarnya kalau kita menyelesaikan sampah organik di desa menjadi pupuk organik kita bisa menyelesaikan kemarjinalan dari lahan yang kita miliki,” ujar Kartini.

Ia menjelaskan kerusakan lahan pertanian turut berkaitan dengan menurunnya produksi pangan. Kapasitas produksi yang sebelumnya mencapai puluhan ton dalam sekali panen kini dapat turun menjadi 4-5 ton dan tidak jarang berujung gagal panen.

Karena itu, pengolahan sampah organik di desa tidak hanya dipandang sebagai upaya menangani persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari pemanfaatan kembali bahan organik untuk tanah pertanian.

“Maka dari itu sampah organik ini adalah dewa penolong sebenarnya untuk melestarikan lingkungan, sebagai makanan semua mikroorganisme, meso, dan makroorganisme yang ada di dalam tanah,” tuturnya.

Potensi bahan organik yang dapat dimanfaatkan juga cukup besar. Dalam sehari, Bali menghasilkan 3.463 ton sampah campuran. Dengan asumsi 40 persen merupakan sampah organik, sekitar 900,4 ton berpotensi menjadi bahan pupuk organik setiap hari.

“Itu kalau 40 persen, kalau lebih akan lebih lagi, dan kalau harganya Rp1000 saja maka 900 ton berapa banyak kita buang uang setiap hari, maka kalau kita bisa mendorong satu desa saja sebagai percontohan,” kata Kartini.

Untuk mewujudkan pengelolaan tersebut, perubahan di tingkat desa dinilai perlu diawali dengan pembentukan karakter dan budaya memilah sampah. Kebiasaan itu perlu dibangun dari rumah, sekolah, tempat kerja hingga industri pariwisata di desa.

Kebiasaan memilah sampah kemudian perlu didukung dengan pengaktifan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) serta peralatan yang berfungsi optimal. Dengan demikian, sampah organik dapat dipisahkan dan dimanfaatkan sebelum tercampur dengan sampah lainnya.

Kartini juga mengingatkan bahwa sampah campuran yang tetap beredar atau berakhir di TPA dapat meningkatkan risiko pencemaran terhadap lingkungan dan produk pangan yang dikonsumsi masyarakat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Baskara Bakti Dorong UMKM Terapkan Wisata Ramah Lingkungan

PDF đź“„Desa Baskara Bakti memperkuat pengembangan wisata ramah lingkungan dengan membekali pelaku UMKM dan masyarakat …

68 Desa Kekurangan Air, BPBD Banyumas Salurkan 4 Juta Liter

PDF đź“„Puluhan desa di Banyumas menghadapi kebutuhan air bersih yang terus meningkat setelah kekeringan meluas …

Koperasi Desa Jadi Penggerak Usaha Nelayan Sinjai

PDF đź“„Integrasi koperasi dengan kampung nelayan di Tongke-Tongke diarahkan untuk memperluas akses permodalan, menyerap hasil …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *