Kekeringan berkepanjangan membuat masyarakat desa di Cianjur mengandalkan sumber air pegunungan, bak penampungan, dan jaringan pipa swadaya untuk mempertahankan pertanian serta memenuhi kebutuhan rumah tangga.
CIANJUR – Kekeringan berkepanjangan membuat sejumlah desa di Kabupaten Cianjur menghadapi penyusutan sumber air untuk pertanian dan kebutuhan rumah tangga, sehingga masyarakat harus membangun bak penampungan serta memasang jaringan pipa hingga beberapa kilometer untuk mempertahankan pasokan air.
Kondisi tersebut dirasakan masyarakat di kawasan kaki Gunung Gede-Pangrango, terutama petani di Kecamatan Cugenang. Sejak sekitar empat bulan terakhir, sungai dan saluran air mengering, sementara hujan yang dinantikan hingga September belum mampu mengembalikan debit air seperti semula.
Masyarakat desa bersama petani bergotong royong membersihkan saluran dan sungai yang masih menyisakan air. Air kemudian ditampung dalam bak darurat berbahan terpal sebelum dialirkan ke lahan pertanian dan perkampungan melalui pipa serta slang plastik.
Upaya tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat desa mempertahankan sumber air yang tersisa. Jaringan pipa bahkan membentang hingga sekitar 2 kilometer menuju perkampungan dan dijaga setiap hari agar aliran tetap berjalan.
Ruhiyat (56), petani Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, mengatakan persoalan air di kawasan perkebunan teh Gedeh semakin berat setelah gempa bermagnitudo 5,6 pada 2022. Kondisi tersebut membuat petani mencari sumber air yang lokasinya lebih jauh dari lahan.
” Tidak hanya kemarau, sekarang sejak tiga tahun terakhir, kami di kaki gunung sudah kesulitan mendapatkan air untuk pertanian dan rumah tangga. Namun, tahun ini cukup panjang dan berat sehingga berbagai sumber terus diupayakan,” katanya.
Untuk memperoleh pasokan tambahan, petani mencari mata air sekitar 4–6 kilometer dari ladang dan menyambungkan batang pipa menuju bak penampungan bersama. Pemeliharaan dilakukan secara bergantian hampir setiap pekan agar pembagian air ke wilayah pertanian dan perkampungan tetap merata.
Ketika sungai dan saluran air mengering, masyarakat juga memanfaatkan air terjun atau curug sebagai sumber pasokan. Pipa induk berukuran besar yang merupakan peninggalan zaman kolonial di perkebunan teh Gedeh kembali diaktifkan untuk mengalirkan air dengan memanfaatkan gravitasi.
Di bawah jatuhan air, petani memasang tiga lembar atap seng yang ujungnya tersambung langsung ke pipa. Air kemudian dialirkan lebih dari 1 kilometer menuju bak penampungan berukuran besar yang dibangun secara swadaya dan dengan bantuan pemerintah.
Dari bak tersebut, air dialirkan melalui puluhan hingga ratusan slang plastik menuju lahan pertanian. Karena debit terbatas, masyarakat mengatur penggunaannya sehingga penyiraman tanaman hanya dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Upaya pengelolaan air secara bersama itu masih membantu petani mempertahankan tanaman dan menekan risiko gagal panen akibat kemarau panjang. Petani di Kampung Karamat, Rojiman (45), mengatakan pembuatan bak baru dilakukan untuk menjaga pembagian air tetap merata, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (25/09/2026).
“Tahun ini kekeringan yang melanda cukup parah, sehingga kami bersama petani lain di Kecamatan Cugenang mencari solusi ketika sungai dan aliran air mengering. Bak penampungan baru dibuat agar pembagian air tetap merata,” kata petani di Kampung Karamat, Rojiman (45).
Kondisi antarwilayah desa tidak sepenuhnya sama. Masyarakat Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, misalnya, masih memperoleh air untuk mengairi lahan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga karena sumber mata air di jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango tetap terjaga.
Puluhan bak penampungan berukuran besar di kawasan tersebut terhubung ke rumah warga melalui pipa dan slang plastik. Keberadaan sumber air pegunungan membuat masyarakat tetap dapat memperoleh air bersih dan mengairi tanaman ketika kemarau panjang berlangsung.
“Bak penampungan di kaki gunung yang sudah ada sejak dulu terpelihara sampai saat ini, bukti pipa induk dari besi masih berfungsi dengan baik dari kaki gunung hingga perkampungan warga,” kata warga Desa Sukatani, Ayi Sopandi (52).
Ketua Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA) Eko Wiwid mengatakan berkurangnya sumber mata air saat kemarau dipengaruhi sejumlah faktor, meskipun kondisi hutan di bagian hulu masih utuh.
Kawasan hutan Gunung Gede-Pangrango selama ini menjadi pemasok air bagi wilayah hilir. Perubahan iklim dan kemarau berkepanjangan menyebabkan defisit air, sedangkan suhu panas meningkatkan penguapan.
Kekeringan panjang tahun ini dirasakan warga di 18 kecamatan di Cianjur. Sejumlah perkampungan yang kehilangan sumber air dari sumur, sungai, dan saluran air mengandalkan pasokan air bersih menggunakan truk tangki.
Pemerintah setempat juga melakukan berbagai langkah untuk menjaga kebutuhan masyarakat desa dan keberlangsungan pertanian, antara lain membangun sumur bor, menormalisasi saluran irigasi, menyediakan pompa air, serta membangun bak penampungan.
Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorti) Cianjur memberikan 11 pompa air di delapan kecamatan. Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Distanhorti Jawa Barat, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Cianjur untuk menjaga fungsi saluran irigasi.
Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian meminta para camat mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah juga memetakan kebutuhan serta ketersediaan sumber daya di tingkat desa, termasuk tempat penampungan air, sumur resapan, kolam retensi, dan sumur bor.
Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak, menjaga sumber air, serta menghindari pembakaran lahan dan sampah secara sembarangan. Pemerintah daerah juga menyiapkan pembangunan sumur bor di sejumlah kecamatan yang setiap tahun rentan mengalami kekeringan, normalisasi saluran irigasi, dan pembangunan bak penampungan untuk menjaga pasokan air ke depan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara