PONOROGO – Sekitar 100 kepala keluarga (KK) di Dusun Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, kembali menghadapi krisis air bersih akibat sumur warga mengering dan aliran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) semakin mengecil hingga berhenti mengalir. Kondisi yang berulang setiap musim kemarau itu membuat warga harus patungan membeli air atau menempuh perjalanan hingga tiga kilometer untuk mengambil air di sungai.
Kesulitan air mulai dirasakan warga sejak Juli 2026. Bantuan air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pihak swasta telah disalurkan secara rutin, tetapi persediaannya terkadang habis sebelum pengiriman berikutnya.
Kepala Dusun (Kasun) Dungus Supriyanto mengatakan kekeringan bukan persoalan baru bagi warga setempat. Kondisi serupa telah mereka hadapi sejak 2018 dan kembali terjadi ketika kemarau datang.
“Ya kalau tidak ada bantuan dropping air dari swasta maupun BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) ya ada yang mandi di sungai maupun patungan beli galon,” ungkap Supriyanto, Jumat (11/9/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Jatim, Jumat, (11/09/2026).
Menurut Supriyanto, jarak sumber air alternatif menjadi persoalan tersendiri bagi warga. Sebagian harus menuju sungai yang berjarak sekitar satu setengah hingga tiga kilometer dari permukiman untuk mencuci dan memenuhi kebutuhan lainnya.
“Setiap mulai kering kan kami selalu bersurat ke BPBD meminta air bersih. Tetapi kan pasti ada proses yang dilalui. Warga pun ada nyuci pun di sungai. Jaraknya itu pun ya jauh, lumayan jauh, ya ada yang jaraknya ada yang 3 kilo, he’eh, ada yang 1 kilo setengah, gitu,” katanya.
Warga juga patungan membeli air ketika persediaan dari bantuan tidak mencukupi kebutuhan hingga jadwal pengiriman berikutnya. Pengiriman bantuan air disebut dilakukan setiap Senin dan Kamis.
“Beli itu kalau memang itu pada waktu belum ada pengiriman, jadwalnya itu Senin dan Kamis, itu kalau kurang ya beli,” papar Supriyanto.
Persoalan muncul ketika air bantuan habis sebelum jadwal distribusi berikutnya. Warga kemudian kembali mencari sumber air lain atau mengeluarkan biaya untuk membeli air.
“Nah, kadang-kadang sebelum sampai hari Kamis sudah habis. Ya akhirnya jadi ke sungai maupun beli,” jabarnya.
Dusun Dungus sendiri dihuni sekitar 290 KK. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 KK terdampak kekeringan dan jumlahnya berpotensi bertambah apabila kemarau berlanjut serta semakin banyak sumur warga mengering.
“Sampai sekarang. Tapi biasanya kalau bulan ini, bulan 9 ke atas, itu kan makin tambah makin tambah karena sumur banyaknya mengering, kan gitu,” imbuhnya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan ketika bantuan tiba, warga telah menyediakan sejumlah tempat penampungan air di pinggir jalan. Wadah tersebut digunakan untuk menampung air yang dikirim pemerintah maupun pihak swasta.
Supriyanto menilai bantuan distribusi air penting untuk memenuhi kebutuhan warga dalam kondisi darurat, tetapi belum menyelesaikan persoalan yang terus berulang setiap tahun. Karena itu, warga berharap tersedia sumber air yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
“Ya kita tuh kan kalau setiap tahun seperti ini kekeringan air, kalau kita cuma bantuan kan bukan penyelesaian. Jadi kita kan mencari alternatif untuk mencari sumber dan untuk kehidupan sehari-hari menanggulangi di musim-musim kemarau enggak kekurangan air, seperti itu,” tambahnya.
Kesulitan serupa dirasakan Soirah, 65, warga Dusun Dungus. Menurut dia, aliran PDAM sempat tersedia pada awal kemarau meski tidak setiap hari, sebelum debitnya semakin kecil dan akhirnya berhenti.
Kondisi itu membuat Soirah harus membeli air galon untuk kebutuhan mandi dan memasak ketika bantuan belum mencukupi. Untuk kebutuhan air dalam jumlah lebih banyak, warga juga terkadang meminta kepada tetangga atau mengambil air dari desa sebelah yang berjarak sekitar satu kilometer.
“Ini sudah sekitar satu bulan kesulitan air. Awalnya PDAM masih mengalir, tapi sekarang sudah tidak ada. Kalau untuk mandi dan memasak terpaksa beli air galon. Nah sekarang sudah ada bantuan BPBD sudah aman. Ya kalau tidak cukup beli atau cari di sungai,” pungkasnya.
Bagi warga Dusun Dungus, distribusi air tetap menjadi penopang utama selama kemarau. Namun, pembangunan sumber air permanen dinilai lebih dibutuhkan agar kebutuhan dasar warga tidak terus bergantung pada bantuan setiap kali musim kering datang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara