Investasi Tebu Perkuat Desa, Pendidikan, dan Ekonomi Sumba Timur

SUMBA TIMUR – Pengembangan industri tebu di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai membentuk rantai ekonomi baru di wilayah yang sebelumnya berstatus daerah tertinggal. Investasi perkebunan dan pabrik gula tidak hanya diarahkan untuk mendukung swasembada gula nasional, tetapi juga membuka peluang kerja, memperkuat pendidikan vokasi, serta mendorong pengembangan ekonomi masyarakat desa.

Salah satu penggeraknya adalah PT Muria Sumba Manis (MSM), perusahaan agribisnis perkebunan dan pengolahan tebu yang beroperasi di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur. Perusahaan tersebut mengembangkan perkebunan tebu di lahan kering sekaligus membangun pabrik gula yang terintegrasi dengan kawasan perkebunan.

Investasi PT MSM yang berada di bawah PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) atau Grup Djarum mencapai Rp9,2 triliun dengan luasan lahan sekitar 20 ribu hektare. Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat serta meningkatkan nilai ekonomi lahan kering yang selama ini menghadapi keterbatasan kondisi alam.

Pabrik gula MSM memiliki kapasitas pengolahan 12.000 tons cane per day (TCD) atau 12.000 ton tebu per hari. Fasilitas tersebut menggunakan sistem kendali otomatis penuh atau technology fully automatic control serta dilengkapi unit dekolorisasi untuk menghasilkan gula yang ditujukan ke pasar antarperusahaan atau business-to-business (B2B).

Sebagaimana diberitakan Antara, Senin, (07/09/2026), pabrik yang mulai beroperasi penuh pada 2020 itu diproyeksikan menghasilkan sekitar 1.200 ton gula kristal putih dan gula kristal rafinasi per hari selama musim panen yang berlangsung sekitar empat bulan, dari pertengahan Juli hingga pertengahan Oktober.

Pengembangan tebu dilakukan di sejumlah wilayah Sumba Timur, termasuk kawasan transmigrasi Melolo serta Kecamatan Umalulu, Pandawai, Kahunga Eti, Rindi, Pahunga Lodu, dan Wula Waijelu. Perusahaan memanfaatkan lahan yang memiliki karakter kering dan berbatu dengan dukungan teknologi pertanian modern.

Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri karena Sumba merupakan wilayah dengan karakter semi-arid atau kering. Tanah di sejumlah kawasan didominasi material berkapur dan berbatu dengan lapisan tanah subur yang relatif dangkal. Meski demikian, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menghalangi pengembangan perkebunan tebu.

Pengelola MSM menargetkan perluasan lahan tanam hingga mencapai 10 ribu hektare pada 2031 atau bertambah sekitar 1.000 hektare setiap tahun. Produktivitas juga menjadi perhatian karena tebu yang dihasilkan disebut memiliki rendemen hingga 21 persen, sekitar tiga kali rata-rata rendemen nasional.

Managing Director PT MSM Budi Hediyana mengatakan kondisi Sumba memiliki potensi untuk menghasilkan tebu berkualitas sekaligus mendukung peningkatan investasi di kawasan tersebut.

“Potensi sinar matahari dan infrastruktur yang terus dilakukan di Pulau Sumba diharapkan bisa mempercepat investasi sehingga akan dapat menghasilkan tebu yang lebih manis dan ini akan menjadi tebu terbaik nasional, serta membantu swasembada gula nasional,” kata Budi Hediyana.

Dampak pengembangan industri juga diarahkan ke sektor pendidikan. SMK Negeri 2 Waingapu mengembangkan berbagai kompetensi, mulai dari Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP), Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), Teknik Energi Surya, Hidro, dan Angin (TESHA), hingga Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT).

Sekolah tersebut menjalin kerja sama dengan MSM dalam pengembangan kompetensi siswa, pelatihan guru, serta penyediaan sarana dan peralatan pembelajaran untuk meningkatkan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.

Program sosial perusahaan juga menyasar masyarakat desa melalui sejumlah kegiatan, seperti pemberian sepatu dan beasiswa bagi siswa berprestasi. Di bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan, MSM membeli sejumlah produk mebel hasil karya siswa SMK Negeri 2 Waingapu untuk kemudian diberikan kepada sekolah dasar di wilayah tersebut.

Penguatan ekonomi masyarakat juga dilakukan melalui pembinaan desa agrowisata berbasis lingkungan dan edukasi. Program tersebut mencakup penanaman pohon, pengembangan agrowisata, penyerapan hasil pertanian warga, peningkatan nilai tambah produk lokal, rumah kompos, taman baca, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu desa binaan MSM, yakni Desa Agrowisata Patawang, meraih Gold Award dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2025 yang diselenggarakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Program perusahaan juga mencakup bidang kesehatan, antara lain literasi gizi, bantuan kacamata, penyediaan tempat sampah, serta dukungan pencegahan kebakaran. Berbagai program tersebut dirancang sebagai kegiatan berkelanjutan dalam periode lima tahunan.

Rangkaian pengembangan ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat itu berlangsung bersamaan dengan perubahan status pembangunan Sumba Timur. Kabupaten tersebut sebelumnya masuk daftar daerah tertinggal berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2020.

Dalam perkembangan berikutnya, Sumba Timur berhasil keluar dari predikat daerah tertinggal atau daerah 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar. Keberhasilan tersebut merupakan hasil berbagai upaya pembangunan yang mencakup peningkatan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Sumba Timur merupakan salah satu dari 22 kabupaten/kota di NTT. Pemerintah daerah selama bertahun-tahun menjalankan berbagai program untuk meningkatkan indeks pembangunan daerah tertinggal, sementara sektor swasta turut mengambil bagian melalui investasi dan program pemberdayaan masyarakat.

Perubahan status tersebut menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan investasi, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan kegiatan ekonomi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan industri tebu, pendidikan vokasi, serta pembinaan desa menjadi bagian dari proses transformasi ekonomi Sumba Timur yang diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

KDMP Jangan Seragam, Model Bisnis Harus Sesuai Potensi Desa

PDF 📄JAKARTA – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai tidak seharusnya menjalankan model usaha yang …

Pemkab Halsel Siapkan Rp80 Miliar Benahi Jalan Perkotaan

PDF 📄HALMAHERA SELATAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Selatan (Halsel) mengarahkan sekitar Rp80 miliar untuk …

Banjir Matikan Ribuan Jeruk, Warga Pante Lhong Mulai Bangkit

PDF 📄BIREUEN – Pemulihan sumber penghasilan warga Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, mulai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *