PARIGI MOUTONG – Penanganan dampak banjir dan longsor di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, terus dikebut setelah bencana mengganggu kelancaran arus kendaraan di Jalur Trans Sulawesi. Selain enam titik longsor yang menutup badan jalan, jembatan di Desa Peningka mengalami kerusakan sehingga kendaraan bermuatan berat belum dapat melintas.
Kondisi tersebut membuat kendaraan dari arah utara dan selatan harus mengantre. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo mencatat sekitar 157 kepala keluarga (KK) terdampak banjir yang terjadi di empat desa Kecamatan Kasimbar. Sebagian besar warga memilih tetap berada di rumah karena genangan telah surut dan tidak ada warga yang mengungsi.
“Hasil asesmen tim reaksi cepat (TRC) BPBD di lapangan, banjir sudah surut dan tidak ada warga mengungsi. Warga lebih memilih bertahan di rumah, situasi terkini kendaraan masih mengantre di jalur Trans Sulawesi di Kasimbar,” ujarnya.
Data BPBD menunjukkan dampak terhadap warga tersebar di Desa Laemanta sebanyak 34 KK, Desa Laemanta Utara 50 KK, dan Desa Labuan Donggulu 73 KK. Sementara itu, Desa Peningka tidak dilaporkan memiliki warga terdampak, tetapi infrastruktur jembatan di wilayah tersebut mengalami kerusakan akibat banjir.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Parimo Moh Rivai menjelaskan banjir dipicu luapan air sungai setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut. Sebagaimana diberitakan Antara, Jumat, (28/08/2026), kondisi itu juga memicu longsoran material dari lereng gunung yang menutup sejumlah bagian badan jalan.
“Banjir terjadi akibat luapan air sungai dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut,” kata Plt Kepala BPBD Parimo Moh Rivai dihubungi dari Palu, Jumat.
Pembersihan material longsor hingga Jumat malam masih dilakukan menggunakan alat berat. BPBD mendapat dukungan alat berat dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah serta personel Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia (TNI/Polri).
Selain penanganan longsor, normalisasi sungai dan pembersihan drainase yang tersumbat lumpur serta potongan kayu menjadi kebutuhan lanjutan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parimo juga mengupayakan tambahan alat berat jenis ekskavator untuk mempercepat proses penanganan.
“Kami masih menunggu perkembangan data dari tim di lapangan, karena ada laporan kami terima sejumlah rumah warga di Desa Labuan Donggulu mengalami rusak ringan akibat dampak banjir,” ucap Rivai.
Gangguan transportasi masih menjadi salah satu dampak utama bencana tersebut. Kerusakan jembatan membuat jenis kendaraan yang dapat melintas dibatasi, sedangkan pengendara diminta berhati-hati karena sejumlah ruas jalan masih dalam kondisi basah dan berlumpur.
“Dilaporkan sekitar 157 kepala keluarga terdampak bencana hidrometeorologi pada empat Desa di Kecamatan Kasimbar. Kami mengapresiasi langkah cepat TNI/Polri, BPJN dan warga setempat ikut terlibat membersihkan material longsor maupun penanganan fasilitas umum yang terdampak akibat banjir,” ucapnya.
Penanganan juga dilakukan terhadap dampak banjir bandang di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara. BPBD bersama relawan dan berbagai pihak masih melanjutkan penanganan untuk memulihkan fasilitas umum serta aktivitas masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara